Asuransi Konstruksi

8 Trend Klaim Asuransi Proyek Konstruksi yang perlu anda ketahui

Liga Asuransi – Sidang pembaca yang luar biasa, apa kabar? Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai perspektif manajemen risiko dan asuransi di sektor Engineering dan Konstruksi secara keseluruhan, kali ini kami ingin menuliskan hasil  kajian dari Allianz sebuah perusahaan asuransi global terkemuka asal Jerman yang dikenal sebagai pemain utama dari asuransi Engineering dan Konstruksi.

Informasi kami tuliskan berdasarkan pengalaman pribadi dan dari ringkasan  dari press lease Allianz Global Corporate & Specialty (AGCS) tahun 2019.

Seperti yang kita ketahui bersama saat ini Indonesia sedang giat membangun proyek infrastruktur dalam jumlah besar. Mulai dari pembangunan jalan raya, jembatan, pelabuhan, Bandar udara, pembangkit listrik, bendungan dan fasilitas lainnya. Selain itu pembangunan proyek konstruksi non infrastruktur juga banyak dibangun seperti pembangunan kawasan industri, pabrik, pusat perkantoran, pusat perbelanjaan dari sarana umum lainnya.

Kami berharap semoga tulisan ini bermanfaat sebagai masukan bagi para investor, pemilik konsultan, kontraktor dan perusahaan pendukung proyek konstruksi lainnya. Jika Anda tertarik dengan tulisan ini silahkan dibagikan kepada rekan-rekan Anda agar mereka juga paham seperti Anda.

Asuransi engineering adalah jenis asuransi yang sangat khusus yang meliputi proyek konstruksi tidak hanya di Indonesia akan tetapi proyek yang tersebar di seluruh dunia, termasuk bandara, jalur kereta api berkecepatan tinggi, pembangkit listrik, dan kompleks manufaktur. Proyek semacam itu biasanya nilainya sangat tinggi – yang terbesar bernilai puluhan miliar dolar – dan dapat berjalan selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.

Allianz Global Corporate & Specialty (AGCS) mengidentifikasi delapan perkembangan yang muncul seputar risiko rekayasa dan konstruksi.

Biasanya risiko konstruksi banyak terjadi di proyek yang berada di lokasi yang sibuk. Tetapi bila proyeknya itu pembangkit listrik tenaga air atau fasilitas minyak dan gas, klaimnya bisa menjadi sangat mahal dan rumit. Misalnya musibah banjir yang terjadi di bendungan PLTA Hidroituango di Kolombia pada tahun 2018 pada saat konstruksi menelan biaya hampir US$1,4 miliar, dan menjadikannya sebagai salah satu klaim teknik terbesar dalam sejarah.

Berikut ini hasil temuan dari team AGCS:

  1.       Nilai proyek yang semakin tinggi

Proyek rekayasa dan konstruksi kini telah berubah banyak sekali dalam beberapa dekade terakhir, nilainya yang jauh lebih tinggi dan resiko yang semakin kompleks. Proyek seperti itu biasanya bernilai sangat tinggi – yang bernilai puluhan miliar dolar – dan dapat berjalan selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.

Sebagai contoh, perluasan Bandara Internasional Al Maktoum di Dubai, proyek ini tidak akan selesai hingga 2030 nanti dan diperkirakan menelan biaya $36 miliar. Proyek Crossrail London, yang saat ini merupakan proyek infrastruktur terbesar di Eropa, pembangunannya akan memakan waktu lebih dari 10 tahun dengan biaya lebih dari £17 miliar ($21 miliar).

Lokasi proyek konstruksi saat ini jauh lebih besar daripada di masa lalu. Pembangkit listrik, kilang atau pabrik mobil, proyek sekarang luasnya jauh lebih besar dan nilainya jauh lebih tinggi. Dan dengan semakin dengan tinggi teknologi dan mesin canggih di pabrik dan kantor, nilai per meternya juga meningkat secara signifikan.

  1. Kebakaran dan Ledakan adalah Penyebab Klaim Terbesar

Kebakaran dan ledakan menjadi penyebab kerugian terbesar untuk klaim asuransi rekayasa, lebih dari seperempat atau tepatnya(27%) kerugian berdasarkan nilai kerugian. 7% berdasarkan dari jumlah klaim keseluruhan berdasarkan analisis lebih dari 13.000 klaim. Nilai klaim keseleruhuan sekitar €8 miliar atau $8,8 miliar Kebakaran telah menyebabkan kerugian asuransi lebih dari €2,1 miliar selama periode lima tahun.

Bencana alam menjadi penyebab klaim rekayasa yang kedua terbesar setelah kebakaran dan ledakan. Kerusakan akibat badai  satu dari 10 klaim. Bencana alam juga perlu menjadi perhatian utama bagi perusahaan pengembang dan konstruksi.

Dengan kerugian besar akibat dari badai dan kebakaran hutan AS, serta banjir dan badai yang melanda kawasan Asia yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Faktanya, tahun-tahun terakhir termasuk kerugian yang paling besar dalam 30 tahun terakhir

  1.       Produk cacat dan kerugian akibat menurunnya Quality Control

Ketika bencana alam telah menjadi berita utama dalam beberapa tahun terakhir, akan tetapi pada saat yang bersamaan bersamaan resiko akibat cacat desain dan pengerjaan yang buruk telah meningkat menjadi faktor penyebab utama dari klaim asuransi rekayasa.

Produk cacat menjadi penyebab terbesar dari segi jumlah kejadian pada klaim asuransi rekayasa berdasarkan frekuensi, dan terbesar kedua berdasarkan tingkat keparahan. Demikian menurut analisis klaim AGCS.

  1.       Kompleksitas rantai pasokan penyebab meningkatkan biaya klaim

Proyek konstruksi besar saat ini jauh lebih kompleks karena  melibatkan lebih banyak kontraktor dan rantai pasokan yang lebih panjang. Di masa lalu, misalnya bandara atau pembangkit listrik yang dibangun di AS atau Eropa oleh kontraktor nasional yang menggunakan pemasok lokal. Tapi saat ini, melibatkan banyak pihak dengan mesin, peralatan, dan komponen lain yang bersumber dan diangkut dari seluruh dunia.

Rantai pasok yang kini makin panjang dan penggunaan mesin yang lebih khusus juga mempengaruhi ukuran klaim teknik. Misalnya, instalasi minyak dan gas yang sedang dibangun di Eropa atau AS kemungkinan besar akan membutuhkan ratusan modul untuk diproduksi di China, Korea dan Thailand, diangkut ke lokasi dan kemudian dirakit. 

Banyak proyek saat ini terlalu besar untuk satu kontraktor, tetapi dengan meningkatkan jumlah pihak yang terlibat dalam suatu proyek, manajemen proyek dan jaminan kualitas menjadi tantangan yang lebih besar. Rantai pasokan yang diperpanjang juga menciptakan eksposur – boiler, turbin, dan mesin lainnya sekarang harus diangkut dengan jarak yang lebih jauh, meningkatkan risiko kerusakan atau keterlambatan.

  1.       Jumlah Klaim Akibat Gangguan Usaha/penundaan startup meningkat

Klaim asuransi gangguan usaha (BI) juga menjadi penyebab tingginya klaim asuransi rekayasa karena pelanggan berusaha untuk melindungi pendapatan dan meminta jaminan asuransi telah diperluas. Perusahaan konstruksi dan rekayasa menjadikan BI sebagai risiko yang paling ditakuti setelah resiko bencana alam.

Semakin meningkatnya kesadaran perusahaan konstruksi akan adanya potensi bahaya dari resiko BI telah menyebabkan terjadinya peningkatan permintaan untuk jaminan BI, khususnya asuransi keterlambatan atau Delay in start-up (DSU), yang mencakup keterlambatan proyek konstruksi atau rekayasa setelah terjadi kerusakan fisik. Klaim DSU biasanya cukup mahal – ganti rugi atas keterlambatan startup telah meningkat dari sekitar $200.000 per hari menjadi hingga $500.000 per hari.

Jaminan BI juga mempengaruhi klaim asuransi rekayasa karena biaya perbaikannya yang lebih tinggi. Peran dari broker asuransi  yang berusaha untuk menyediakan perlindungan asuransi untuk mempercepat perbaikan karena hal ini dapat menaikkan biaya klaim rekayasa. Dalam upaya untuk mengurangi resiko BI, perusahaan konstruksi dan rekayasa berusaha untuk mempercepat perbaikan kerusakan properti, akan tetapi ini hal ini berarti perlu mempercepat realisasi pembayaran klaim kerusakan properti.

Proyek konstruksi besar dapat memakan waktu selama lima hingga 10 tahun untuk diselesaikan dan melibatkan kontraktor dan pemasok dari seluruh dunia, membuat mereka rentan terhadap sanksi dan sengketa perdagangan. Misalnya, kenaikan tarif impor AS yang tiba-tiba dalam jumlah besar dapat menambah jutaan dolar untuk klaim peralatan dan mesin yang diimpor dari negara-negara seperti China.

Meningkatnya penggunaan sanksi ekonomi dan perdagangan oleh AS dan Eropa juga berimplikasi pada klaim dan kemampuan perusahaan asuransi untuk mengoperasikan atau melayani klien di beberapa negara dan sektor. Misalnya, sanksi ekonomi dapat mempersempit pilihan untuk mendapatkan peralatan dan mesin, yang berpotensi meningkatkan biaya klaim.

  1.       Pertumbuhan proyek energi terbarukan membawa tantangan sekaligus manfaat
Baca Juga :   Bangkit Lagi, Industri Konstruksi Diperkirakan Mulai Pulih di 2021

Pasar energi terbarukan yang sedang berkembang pesat merupakan area yang menarik namun cukup menantang bagi sektor konstruksi dan perusahaan asuransinya.

 Karena permintaan energi hijau meningkat, proyek tenaga surya dan angin menjadi lebih besar, lokasi proyek lebih terpencil dan ukuran turbin angin jauh lebih besar.

Pada 2018 saja, sudah terpasang sebanyak 409 turbin angin lepas pantai baru di 18 proyek. Untuk Turbine Angin lepas pantai dimana AGCS menjadi perusahaan asuransi terkemuka, tapi dilain pihak dapat menjadi hal yang sangat menantang untuk klaim. Karena letaknya berada di laut, turbin angin lepas pantai sulit diakses, membutuhkan drone dan pengatur bersertifikat untuk menilai kerusakan. Inovasi angin lepas pantai juga bergerak cepat. Turbin angin semakin besar  dengan model terbaru.

Ukuran tingginya Turbine Angin bisa mencapai 260 meter dan memiliki bilah sepanjang lapangan sepak bola. Ukuran kincir angin juga meningkat – misalnya, kincir angin lepas pantai Hornsea Project One di Inggris, yang akan menjadi yang terbesar di dunia, akan memiliki lebih dari 170 turbin yang beroperasi yang akan selesai tahun depan. Ketika ladang angin menjadi lebih besar, dampak kerusakan karena cacat akan lebih besar, yang menyebabkan perusahaan asuransi meningkatkan pengurangan kerugian yang memengaruhi lebih dari lima turbin.

  1.       Meningkatkan peran drone dan teknologi baru dalam penilaian risiko dan klaim

Karena proyek rekayasa dan konstruksi besar menjadi lebih kompleks, melibatkan banyak kontraktor dan pemasok, risiko dan klaim selanjutnya dapat menjadi jauh lebih sulit untuk menilai dan menetapkan penyebab akhir kerugian. Namun, perusahaan asuransi memiliki serangkaian teknologi baru yang semakin meningkat yang dapat meningkatkan kepastian untuk risiko rekayasa dan penilaian klaim, serta meningkatkan layanan secara keseluruhan.

  1.       Meningkatkan peran drone dan teknologi baru dalam penilaian risiko dan klaim

Pemindaian laser dan pemodelan komputer dapat digunakan untuk membuat analisis akar penyebab ledakan mesin. Lokasi yang tidak dapat diakses oleh loss adjuster, pertama kali dieksplorasi oleh drone, sementara pemindai laser 3D dan pemodelan komputer kemudian mensimulasikannya untuk menentukan penyebab kerugian.

Drone dan citra satelit juga membantu untuk menilai klaim akibat bencana alam baru-baru ini, seperti kebakaran hutan di California dan Badai Florence pada tahun 2018. Hal ini memungkinkan loss adjuster untuk mendapatkan gambaran umum yang cepat tentang kerusakan, serta menilai klaim di area berbahaya atau tidak dapat diakses.

Dengan bekerjasama dengan perusahaan geodata teknik IABG, AGCS juga telah mengembangkan jenis baru untuk survei risiko banjir berdasarkan data topografi dari drone untuk memodelkan perilaku banjir dan drainase di lokasi proyek konstruksi. Pekerjaan persiapan di lokasi konstruksi dapat mengubah ketinggian lokasi dan sering kali mengganggu aliran air alami dan drainase, menciptakan hambatan seperti penumpukan air selama hujan deras yang berarti paparan banjir dapat berubah selama kegiatan konstruksi. Dengan menggabungkan data topografi 3D dengan perangkat lunak pemodelan hidrogeologi dan data simulasi curah hujan, dimungkinkan untuk menilai aliran air di seluruh lokasi konstruksi dan memprediksi risiko banjir bandang.

Pada saat yang bersamaan, teknologi satelit terbukti sangat berguna untuk klaim rekayasa, menyediakan gambar beresolusi tinggi dari sebuah lokasi dalam waktu 24 jam setelah kehilangan. Ini dapat memberikan informasi untuk pengaturan risiko proyek rekayasa di lokasi terpencil atau berbahaya, serta memberikan data untuk menangani klaim yang tidak wajar atau penipuan. Misalnya, AGCS menggunakan citra satelit untuk memantau pembangunan bendungan hidro dari jarak jauh yang kemudian melaporkan tentang terjadinya sebuah insiden. Adjuster tidak dapat mengunjungi bendungan, tetapi data satelit menunjukkan kerusakan bendungan tidak sebesar yang diklaim.

Dengan membaca uraian diatas terlihat bahwa resiko proyek rekayasa dan konstruksi di masa mendatang sangat berat dan menantang. Hal ini memerlukan perencanaan, kajian rekayasa, pembiayaan dan manajemen risiko yang lengkap agar terhindar dari kecelakaan yang dapat menggagalkan proyek.

Salah satu solusi terbaik yang diperlukan oleh pemilik dan kontraktor proyek adalah dengan membuat manajemen risiko dan perencanaan asuransi yang lengkap dan menyeluruh dengan memanfaatkan bantuan dari perusahaan broker asuransi yang berpengalaman. Broker asuransi adalah ahli asuransi dan sekaligus menjadi konsultan manajemen risiko yang dapat diandalkan. Salah satu perusahaan broker asuransi terkemuka di Indonesia adalah L&G Insurance Broker.

Untuk seluruh keperluan asuransi perusahaan Anda hubungi L&G Insurance Broker sekarang juga!

Sumber: https://www.agcs.allianz.com/news-and-insights/reports/engineering-construction-claims-insurance-trends.htm

HOTLINE L&G 24JAM: 0811-8507-773 (CALL – WHATSAPP CHAT – SMS)

website: lngrisk.co.id

E-mail: customer.support@lngrisk.co.id

Kenapa Broker Asuransi sering juga disebut sebagai Advocate asuransi?

Klik Untuk Menuliskan Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top