Pendahuluan
Danantara resmi diluncurkan pada 24 Februari 2025 kini satu tahun sejak pembentukannya, berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025. Kini Danantara Indonesia telah menjadi salah satu topik paling strategis dalam diskursus ekonomi nasional. Kehadirannya menandai perubahan besar dalam cara negara mengelola aset dan investasi publik: dari pendekatan sektoral dan operasional menuju pengelolaan portofolio investasi negara yang terintegrasi dan berorientasi nilai jangka panjang.
Namun, di balik optimisme tersebut, terdapat satu pertanyaan mendasar yang sering luput dari pembahasan publik:
seberapa siap Danantara mengelola risiko dari portofolio investasi bernilai sangat besar dan berdampak sistemik bagi keuangan negara?
Artikel ini membahas mengapa manajemen risiko dan asuransi bukan sekadar fungsi administratif, melainkan fondasi utama agar Danantara benar-benar mampu menjadi motor penggerak ekonomi Indonesia ke depan.
Danantara dan Perubahan Paradigma Pengelolaan Aset Negara
Selama bertahun-tahun, pengelolaan BUMN di Indonesia cenderung bersifat terfragmentasi. Setiap perusahaan mengelola risiko dan asuransinya sendiri-sendiri, sering kali dengan standar yang berbeda, pendekatan yang reaktif, dan fokus jangka pendek.
Danantara hadir membawa paradigma baru:
BUMN tidak lagi dipandang sebagai entitas terpisah, melainkan sebagai satu portofolio investasi nasional.
Sebagai holding investasi negara, Danantara memikul mandat strategis untuk:
- Menjaga dan meningkatkan nilai aset negara
- Mendukung proyek strategis nasional
- Menarik investasi dan pembiayaan jangka panjang, termasuk dari investor global
Mandat tersebut secara langsung meningkatkan kompleksitas dan skala risiko yang harus dikelola.
Profil Risiko Danantara: Besar, Kompleks, dan Sistemik
Risiko yang dihadapi Danantara berbeda secara fundamental dibandingkan BUMN operasional tunggal. Eksposurnya bersifat lintas sektor, saling terhubung, dan berpotensi berdampak sistemik.
Risiko Infrastruktur dan Proyek Strategis
Investasi pada jalan tol, pelabuhan, bandara, dan kawasan industri membawa risiko:
- keterlambatan konstruksi,
- kegagalan kontraktor atau teknologi,
- pembengkakan biaya,
- hingga sengketa kontraktual bernilai besar.
Risiko Energi dan Transisi Energi
Sektor energi, termasuk pembangkit listrik dan energi baru terbarukan, menghadapi:
- risiko teknologi,
- ketidakpastian regulasi,
- volatilitas harga energi,
- serta potensi kegagalan aset bernilai sangat tinggi.
Risiko Hilirisasi dan Industri Berat
Smelter, industri mineral, dan manufaktur berat membawa eksposur terhadap:
- kebakaran dan ledakan,
- kerusakan mesin,
- gangguan rantai pasok,
- risiko lingkungan dan sosial.
Risiko Keuangan, Politik, dan Reputasi
Sebagai representasi kepentingan negara, Danantara juga terekspos pada:
- risiko perubahan kebijakan,
- risiko politik dan regulasi,
- risiko kredit dan likuiditas,
- serta risiko reputasi nasional.
Tanpa pendekatan manajemen risiko yang terstruktur, kerugian dari risiko-risiko ini berpotensi kembali menjadi beban negara.
Mengapa Asuransi Menjadi Isu Strategis
Dalam konteks Danantara, asuransi tidak boleh diperlakukan sebagai kewajiban administratif atau sekadar persyaratan pembiayaan. Asuransi harus diposisikan sebagai instrumen strategis pengelolaan investasi negara.
Perlindungan Modal Negara
Kerusakan aset, kegagalan proyek, atau tuntutan hukum bukan hanya masalah operasional, tetapi ancaman langsung terhadap nilai investasi negara.
Penstabil Neraca Keuangan
Kerugian besar tanpa perlindungan asuransi dapat:
- mengganggu arus kas,
- menurunkan tingkat pengembalian investasi (IRR),
- dan menghambat kesinambungan proyek strategis.
Peningkat Bankability Proyek
Struktur asuransi yang kuat dan bankable merupakan syarat utama bagi:
- pembiayaan perbankan,
- co-investment internasional,
- dan partisipasi lembaga keuangan global.
Dari Polis Terpisah ke Portfolio-Based Insurance Framework
Kesalahan umum dalam pengelolaan asuransi BUMN adalah pendekatan project-based dan silo sektoral. Pendekatan ini tidak lagi memadai untuk skala dan kompleksitas Danantara.
Yang dibutuhkan adalah portfolio-based insurance framework, yaitu:
- asuransi dirancang dari perspektif holding,
- dengan standar perlindungan yang konsisten,
- dan selaras dengan strategi investasi jangka panjang.
Holding Master Insurance Policy
Danantara idealnya memiliki:
- standar wording nasional,
- filosofi deductible yang jelas,
- Minimum Insurance Requirement (MIR) bagi seluruh anak usaha.
Pendekatan ini menciptakan efisiensi premi, kepastian perlindungan, dan kekuatan tawar di pasar asuransi dan reasuransi.
Jenis Asuransi Kunci dalam Portofolio Danantara
Untuk mendukung seluruh spektrum investasi, kerangka asuransi Danantara perlu mencakup:
Infrastruktur dan EPC
- Construction / Erection All Risks
- Third Party Liability
- Delay in Start Up
- Professional Indemnity
Energi dan Utilitas
- Property All Risks
- Machinery Breakdown
- Business Interruption
- Environmental Liability
Hilirisasi dan Industri
- Property dan Machinery Insurance
- Product Liability
- Employers Liability
Investasi Keuangan dan Strategis
- Credit Insurance
- Political Risk Insurance
- Directors & Officers Liability
Asuransi-asuransi ini harus dipandang sebagai satu sistem perlindungan terintegrasi, bukan polis yang berdiri sendiri.
Risk Retention, Transfer, dan Masa Depan Captive Insurance
Tidak semua risiko harus ditransfer ke pasar asuransi. Untuk holding investasi seperti Danantara, strategi ideal adalah risk layering:
- risiko kecil ditahan sendiri,
- risiko menengah dikelola melalui deductible,
- risiko besar ditransfer ke asuransi,
- risiko katastropik dilindungi melalui reasuransi global.
Dalam jangka menengah, Danantara bahkan berpotensi membentuk captive insurance untuk mengelola risiko berulang, meningkatkan efisiensi biaya, dan memperkuat kontrol klaim. Praktik ini lazim diterapkan oleh sovereign fund dan holding investasi global.
Peran Broker Asuransi: Arsitek Risiko
Dalam skala Danantara, peran broker asuransi menjadi krusial dan strategis. Broker yang dibutuhkan bukan sekadar penjual polis, melainkan:
- penasihat risiko,
- perancang program asuransi,
- penghubung pasar reasuransi global,
- serta pengelola klaim bernilai besar.
Broker juga berfungsi sebagai penjaga independensi, terutama di tengah konsolidasi dan merger perusahaan asuransi BUMN, untuk mencegah konflik kepentingan dan menjaga kualitas perlindungan risiko.
Dampak bagi Industri Asuransi Nasional
Penerapan Insurance & Risk Framework oleh Danantara akan membawa dampak positif yang luas:
- peningkatan standar underwriting nasional,
- transfer kapasitas dan keahlian reasuransi global,
- penguatan industri asuransi dan broker lokal,
- serta terciptanya ekosistem manajemen risiko yang lebih sehat.
Dengan pendekatan ini, Danantara berpotensi menjadi benchmark nasional dalam pengelolaan risiko investasi negara.
Penutup
Danantara memiliki potensi besar untuk menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, potensi tersebut hanya dapat diwujudkan jika risiko dikelola secara disiplin, asuransi diposisikan sebagai instrumen strategis, dan tata kelola dijaga dengan independensi.
Tanpa kerangka manajemen risiko dan asuransi yang kuat, Danantara berisiko menjadi pengelola aset besar dengan eksposur risiko yang sama besarnya. Dengan framework yang tepat, Danantara justru dapat tampil sebagai ikon baru pengelolaan investasi negara yang modern, kredibel, dan berkelanjutan di mata global.
—
JANGAN BUANG WAKTU ANDA DAN AMANKAN KEUANGAN DAN BISNIS ANDA DENGAN ASURANSI YANG TEPAT.
HOTLINE L&G 24 JAM: 0811-8507-773 (TELEPON – WHATSAPP – SMS)
Situs web: lngrisk.co.id
Email: halo@lngrisk.co.id
—

