Risk Recommendation

Ini Dia 7 Resiko Pengusaha Ritel di Pusat Perbelanjaan – Mall

Liga Asuransi – Sidang pembaca yang luar biasa, apa kabar? Meskipun saat ini kondisi perekonomian kita sedang mengalami tantangan yang berat akibat dari wabah COVID-19, akan tetapi kita tetap perlu waspada dengan resiko-resiko lain yang dapat mengancam usaha anda. Seperti bencana banjir bandang yang baru saja melanda benua Eropah.

Pada edisi kali ini kami ingin membahas tentang resiko-resiko yang dapat mengganggu usaha ritel atau usaha perdagangan dan komersial. Khususnya pedagang dan pemilik toko/restoran yang menjalankan usahanya di pusat-pusat perbelanjaan, pertokoan/restoran, mall, supermarket dan tempat-tempat serupa lainnya.

Sebagai broker asuransi dan konsultan asuransi kami tertarik untuk membahas hal ini kami melihat masih banyak pemilik toko/restoran yang menganggap bahwa mereka tidak perlu lagi mengasuransikan barang dan toko/restorannya karena sudah ada polis asuransi yang dimiliki oleh pengelola gedung.

Perlu diketahui bahwa pemilik gedung hanya mengasuransikan properti milik mereka yaitu gedung termasuk strukturnya, sarana pendukung, mesin-mesin seperti lift, escalator, genset, tempat parkir, tangga dan bagian dan saran umumnya lainnya.

Sementara barang milik penyewa (tenants) tidak termasuk di dalam jaminan asuransi yang dikelola oleh pemilik gedung. Penyewa perlu mengasuransikan sendiri toko/restoran dan semua barang dagangannya yang berada di dalam toko/restoran. Selain Anda juga perlu mengasuransikan keselamatan pelanggannya jika mereka mengalami kecelakaan di dalam toko/restoran atau ruangan yang anda sewa.

Menurut data, jumlah pusat perbelanjaan di Indonesia pada 2018 sebanyak 708. Angka tersebut setara dengan 4,45% dari total pusat perdagangan yang ada di masyarakat. Saat ini pusat perbelanjaan terbanyak terdapat di Jawa Barat (139 unit), DKI Jakarta (80 unit), dan Jawa Timur (65 unit).

Semakin besar toko/restorannya, semakin luas ruangannya maka semakin tinggi pula nilai aset yang disimpan di dalamnya. Nilai barang yang ada di dalamnya mulai dari puluhan juta hingga ratusan miliar. Jika terjadi kecelakaan misalnya kebakaran maka nilai kerugian yang diderita sangat besar.

Seperti yang kita lihat, saat ini terjadi perubahan yang sangat besar dalam pengelolaan Pusat Perbelanjaan. Anda perlu mengenali perubahan dari cara masyarakat memanfaatkan pusat perbelanjaan. Ada perpindahan dari yang semula hanya sebagai pusat perbelanjaan tradisional dan kini berubah menjadi tempat pertemuan dan rekreasi. Perubahan Ini tentunya menghadirkan tantangan baru yang perlu Anda atasi.

Perubahan besar lainnya adalah dampak media sosial ketika terjadi peristiwa tak terduga. Pentingnya kemampuan komunikasi yang terintegrasi dengan baik sebagai bagian dari manajemen krisis Anda.

Mengingat bahwa pusat perbelanjaan merupakan bagian integral dari masyarakat modern yang menarik banyak pengunjung, pusat perbelanjaan juga sebagai sasaran empuk bagi teroris. Ini berarti bahwa ancaman aksi teror adalah sesuatu yang perlu diingat oleh para manajer pusat.

Secara umum mengoperasikan sebuah toko/restoran ritel atau sebuah e-website secara manajemen risiko  tidak berbeda. Misalnya ada pengunjung toko/restoran yang mengalami kecelakaan yang pergelangan kakinya terkilir karena terpeleset di lantai yang basah atau pencuri digital yang meluncurkan serangan phishing yang menargetkan karyawan Anda, kesemua risiko ritel tersebut dapat berdampak signifikan pada bisnis Anda.

Untuk mengatasi dampak dari resiko-resiko tersebut bisa diatasi  dengan strategi manajemen risiko bisnis ritel, Anda dapat menetralisir banyak ancaman sebelum terjadi.

Berikut ini ada enam hal yang perlu menjadi perhatian dari  bisnis retail:

  1. Pencurian barang

Pengutil dan penjahat lainnya tetap menjadi masalah utama bagi operator toko/restoran dan usaha ritel tradisional. Menurut data, pencurian merugikan pengecer di Amerika Serikat lebih dari $50 miliar pada tahun 2018, meningkat seAndar $4 miliar dari tahun sebelumnya.

Salah satu cara yang dapat menggagalkan pencuri adalah dengan memasang sistem dan peralatan keamanan, yang dapat berupa peralatan pemantauan video, pemasangan tag dan label produk berbasis sensor, kotak pajangan yang terkunci untuk barang-barang yang dapat dengan mudah dicuri, dan alat peringatan yang bisa berbunyi saat pelanggan masuk atau keluar dari toko/restoran, pemasangan cermin di dinding di dalam toko/restoran sehingga setiap gerak pengunjung dapat terpantau, bahkan metode anti-pencurian yang tampaknya ketinggalan zaman – seperti memasang tanda peringatan bahwa pengutil akan dituntut – dapat menghalangi beberapa calon pencuri.

Melatih karyawan untuk bisa mendeteksi pengutil juga bisa menjadi strategi manajemen risiko ritel yang efektif. Tanda-tanda pencuri biasanya dapat terlihat ketika mereka bergerak dalam kelompok besar, berusaha mengalihkan perhatian karyawan, dan mengganti label harga dan kemasan produk untuk membeli barang yang lebih mahal dengan harga lebih murah.

Karena pencurian dapat mempengaruhi banyak pedagang di beberapa titik, strategi manajemen risiko ritel yang baik dimulai dengan membeli asuransi property all risks atau asuransi commercial all risks yang menjamin resiko akibat pencurian, kebakaran, dan kerugian lainnya.

  1. Pencurian data dan pencurian digital

Karena kini semakin banyak orang berbelanja online, kejahatan e-commerce juga semakin meningkat. Dalam laporan tahun 2017, hasil penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa penipuan belanja online naik 30% dari tahun sebelumnya. Secara keseluruhan bisnis e-commerce kehilangan $7 miliar karena penipuan pada tahun 2016, dan jumlah itu diproyeksikan akan meningkat menjadi lebih dari empat kali lipat pada tahun 2020.

Penjahat digital mereka biasanya menargetkan pengecer online dengan beberapa cara. Penipuan phishing yang canggih dengan meyakinkan karyawan atau pelanggan yang tidak menaruh curiga untuk menyerahkan informasi kartu kredit mereka. Penjahat siber juga bisa mengadakan serangan dengan mengganggu dengan melumpuhkan server bisnis Anda, mencegah pelanggan membeli barang. Penjahat dunia maya juga dapat menargetkan pengecer fisik dengan meretas sistem point-of-sale (PoS).

Bisnis e-commerce dan toko/restoran tradisional dapat mengelola risiko ritel dan mencegah terjadinya pemalsuan data dengan mengganti peralatan PoS yang sudah ketinggalan zaman dan mempekerjakan spesialis keamanan siber untuk mengaudit sistem dan perangkat lunak mereka. Polis asuransi Cyber dapat melindungi bisnis ritel Anda dan menanggung kerugian jika terjadi pelanggaran data.

  1. Kerusakan inventaris
Baca Juga :   Seperti Apa Manajemen Risiko dan Asuransi Perusahaan Tambang Mineral?

Bencana alam dan kecelakaan yang berkaitan dengan cuaca dapat mempengaruhi toko/restoran fisik dan bisnis e-commerce yang menyimpan barang di gudang. Bencana alam tidak hanya merusak struktur fisik, tetapi juga sering menyebabkan terjadinya pemadaman listrik, yang mengakibatkan kerugian produk bagi toko/restoran kelontong atau gerai ritel lain yang menjual barang-barang yang mudah rusak.

Salah satu strategi manajemen risiko ritel harus diambil adalah dengan membeli jaminan asuransi property all risks atau commercial all risks dan menyesuaikannya dengan kebutuhan spesifik bisnis Anda. Polis asuransi ritel umum juga dapat mencakup kerusakan inventaris.

  1. Cedera pelanggan

Pelanggan yang mengunjungi toko/restoran dapat mengalami kecelakaan atau terluka akibat dari hal-hal yang tak terduga, tidak peduli berapa banyak tanda keselamatan yang Anda gantungkan sebagai peringatan lantai basah atau pekerjaan konstruksi.

Asuransi kewajiban umum atau Public Liability Insurance dapat melindungi bisnis ritel Anda jika pelanggan menuntut Anda atas cedera yang mereka derita di tempat Anda. Sementara asuransi untuk karyawan perusahaan yaitu BPJS Tenaga Kerja dan BPJS Kesehatan harus dimiliki oleh perusahaan karena sudah diwajibkan oleh pemerintah.

  1. Gagal memantau pesaing

Mengabaikan aktivitas pesaing Anda mungkin bukan risiko ritel secara langsung dapat menyebabkan Anda kehilangan pelanggan dan membahayakan kesehatan jangka panjang bisnis Anda.

Misalnya, jika Anda memiliki toko/restoran kelontong dan belum menggunakan pemasaran digital, coba Anda periksa apakah bisnis pesaing di lingkungan Anda sudah memiliki situs web atau aktif di platform media sosial. Jika sebagian besar pesaing Anda sudah berjualan online, Anda dapat mempertimbangkan untuk menyewa desainer web dan konsultan pemasaran untuk membantu Anda untuk pemasaran digital merek Anda. Anda juga dapat mengamati harga mereka dan memastikan harga yang Anda tawarkan masih kompetitif.

  1. Penutupan paksa

Overhead toko/restoran Anda kemungkinan besar bergantung pada sumber pendapatan tetap. Ketika kebakaran, vandalisme, atau bencana seperti virus corona menyebabkan penutupan yang tidak direncanakan, hilangnya pendapatan bisa sangat menghancurkan.

Asuransi gangguan usaha (Business Interruption Insurance) yang merupakan bagian dari asuransi properti komersial dapat memberikan perlindungan terhadap penutupan paksa terkait dengan klaim asuransi properti, seperti kebakaran. Tapi kerugian lain, seperti penutupan karena COVID-19, mungkin tidak ditanggung.

Meskipun mungkin  Anda berpikir untuk membatalkan asuransi bisnis Anda selama penutupan karena wabah virus corona, tapi justru dampak dari penutupan usaha tersebut membuat risiko pada toko/restoran Anda menjadi lebih rentan terhadap pencurian, perusakan, dan potensi kerugian lainnya.

  • Asuransi Serangan Teroris

Pusat perbelanjaan dan pertokoan/restoran merupakan sasaran empuk bagi teroris untuk menyerang karena dampak yang ditimbulkannya dahsyat dan menarik perhatian masyarakat luas. Selain dengan menerapkan pengawasan keamanan yang ketat, resiko ini juga bisa diatasi dengan membeli asuransi khusus untuk teroris.

Berikut ini jenis polis asuransi yang diperlukan oleh pemilik dan pengelola toko/restoran:

  • Property All Risks dan Commercial All Risks

Menjamin semua barang dan isi toko/restoran akibat kerusakan dan kehilangan akibat dari kebakaran, ledakan, banjir, rusak karena terkena air, tergenang, gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, penjarahan dan perampokan

  • Public Liability Insurance

Asuransi tanggung jawab hukum terhadap pihak ketiga atas kesalahan dan kelalaian Anda yang menyebabkan terjadinya kecelakaan terhadap tamu dan pelanggan Anda.

  • Cyber Risks Insurance

Khusus bagi perusahaan yang telah memasarkan produknya secara online, yang memberikan jaminan atas kehilangan data, kerusakan system dan resiko akibat kerusakan system

  • Personal Accident dan Health Insurance

Jaminan perlindungan atas kecelakaan dan jaminan kesehatan untuk para pekerja.

  • Sabotage and Terrorist Insurance

Untuk mengatasi kerugian dan kehilangan akibat serangan teroris

Cara terbaik untuk mendapatkan jaminan asuransi tersebut diatas adalah dengan menggunakan jasa perusahaan broker asuransi. Broker asuransi adalah ahli asuransi yang bekerja untuk Anda untuk mendapatkan jaminan asuransi yang terbaik dari perusahaan asuransi yang sehat dan mampu membayar klaim jika terjadi.

Salah satu perusahaan broker asuransi terkemuka di Indonesia adalah L&G Insurance Broker.

Untuk semua keperluan asuransi Anda hubungi L&G Insurance Broker sekarang juga!

Source: https://www.insureon.com/blog/retail-risk-management-the-top-threats

Mencari Produk Asuransi? Hubungi Kami Sekarang Juga

HOTLINE L&G 24JAM: 0811-8507-773 (Call – Whatsapp – SMS)

website: lngrisk.co.id

E-mail: customer.support@lngrisk.co.id

Kenapa Broker Asuransi sering juga disebut sebagai Advocate asuransi?

Klik Untuk Menuliskan Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top