Ulas Berita

5 Berita Asuransi Pilihan Bulan Juni 2021

Top News Liga Asuransi

Liga Asuransi – Sidang pembaca yang luar biasa, apa kabar? Kita baru saja melewati semester pertama tahun 2021. Saatnya untuk mengevaluasi kinerja selama enam bulan pertama ini. Apakah sudah berjalan sesuai dengan rencana? 

Hasilnya mungkin berbeda-beda, tergantung kepada kondisi perusahaan anda. Jika kita lihat kondisi ekonomi secara umum nampaknya kondisinya masih belum membaik. Apalagi dengan semakin menggilanya penyebaran wabah COVID-19 sejak awal Juni lalu. Puncaknya pemerintah memutuskan kebijaksanaan PPKM (Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat di Indonesia) di wilayah Jawa dan Bali. 

Seperti biasa, kami sudah siapkan untuk Anda ringkasan 5 berita seputar industri asuransi Indonesia yang mungkin dapat menjadi masukan bagi Anda. Jika Anda tertarik dengan tulisan ini, silakan dibagikan kepada rekan-rekan Anda agar mereka juga paham seperti Anda.

 

  1. KMP Yunice Tenggelam, Jasa Raharja Jamin Santunan Korban Seluruh penumpang 

Antara Bisnis.com, JAKARTA – PT Jasa Raharja memastikan adanya santunan bagi seluruh penumpang yang menjadi korban Kapal Motor Penumpang (KMP) Yunice yang tenggelam di Perairan Selat Bali pada Selasa (29/6) malam. “Kami menyampaikan bela sungkawa dan prihatin atas kejadian musibah kecelakaan tersebut,” kata Kepala Cabang PT Jasa Raharja Bali Dwi Sasono di Denpasar, Selasa (29/6/2021). 

Dwi mengungkapkan pihaknya sudah langsung bergerak menuju lokasi untuk melakukan pendataan terhadap korban kecelakaan KMP Yunice. Dia menegaskan seluruh penumpang KMP Yunice yang menjadi korban berada dalam jaminan Jasa Raharja. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 15 Tahun 2017, maka bagi korban meninggal dunia, ahli waris berhak menerima santunan sebesar Rp50 juta, sedangkan untuk korban yang mengalami luka-luka akan mendapatkan biaya perawatan maksimal Rp20 juta. 

Dwi Sasono menambahkan, Jasa Raharja yang tergabung dalam Group Holding Perasuransian dan Penjaminan atau Indonesia Financial Group (IFG) senantiasa berkomitmen dalam memberikan pelayanan terbaik, mudah, cepat dan tepat. 

Hal itu, kata Dwi, dilakukan sebagai wujud negara hadir bagi korban kecelakaan alat angkutan umum dan korban kecelakaan lalu lintas jalan. “Selain itu, Jasa Raharja dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat senantiasa mengedepankan transformasi digital pelayanan, melalui sistem yang terintegrasi,” ujarnya. 

Sementara itu, diberitakan sebelumnya Polres Jembrana Bali mengungkapkan bahwa ada enam orang meninggal dunia akibat peristiwa tenggelamnya KMP Yunice di Perairan Gilimanuk Bali. Kapolres Jembrana AKBP I Ketut Gede Adi Wibawa menduga keenam orang tersebut meninggal dunia karena tidak bisa berenang saat KMP Yunice tenggelam pada Selasa 29 Juli 2021 sekitar pukul 18.20 WITA di Perairan Gilimanuk Bali. “Saat ini diketahui korban meninggal dunia terkait kapal tenggelam itu ada enam orang,” kata Ketut saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (29/6/2021). 

Ketut menjelaskan berdasarkan data yang diterima total ada 56 orang yang ada di dalam Kapal KMP Yunice tersebut. Dari 56 orang itu, 15 orang adalah anak buah kapal (ABK), sedangkan sisanya 41 orang merupakan penumpang.

 

  1. Industri Asuransi Perlu Percepat Kemampuan Analisa Data

Bisnis.com, JAKARTA — Perkembangan bisnis asuransi yang cepat dinilai membuat industri harus melakukan berbagai transformasi digital, seperti peningkatan kemampuan analitik data. Transformasi itu utamanya harus dilakukan perusahaan-perusahaan pelat merah. Direktur Pengembangan Manajemen Risiko dan Kepatuhan PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau IndonesiaRe Puteri Eka Sukmawati menilai bahwa saat ini perusahaan-perusahaan asuransi harus bergerak cepat untuk menilai analitik data. 

Selain itu, perusahaan asuransi pun harus mampu dan memetakan arah transformasi berbasis data. Menurut Eka, hal tersebut merupakan faktor penting agar perusahaan asuransi lebih responsif terhadap perilaku nasabah dan peluang pasar, seiring cepatnya perubahan teknologi dan karakteristik nasabah. “Perkembangan data di masa sekarang dinilai sangat penting di mana big data menjadi backbone untuk menganalisa, guna bisnis strategis yang lebih baik,” ujar Eka dalam keterangan resmi yang diperoleh Bisnis pada Jumat (2/7/2021). 

Menurutnya, big data dalam kontestasi bisnis asuransi saat ini dimanfaatkan untuk memahami kondisi pasar yang sangat mudah berubah. Cepatnya perubahan tren pasar yang disebabkan perilaku pembelian konsumen harus mampu ditangkap dengan sigap oleh industri asuransi. 

Eka pun menilai bahwa ungkapan data is the new oil bukan sekadar isapan jempol. Big data akan menjadi kunci industri asuransi dalam mengakselerasi kinerja, terlebih setelah pandemi Covid-19 yang ‘memaksa’ dunia usaha mengadaptasi teknologi. 

Meskipun demikian, masih banyak data yang tersedia sifatnya sama seperti minyak mentah, di mana data tersebut belum lengkap dan kurang akurat. Maka sebuah data baru bisa disebut sebagai new oil apabila data tersebut sudah melalui proses analitik, guna menjadikan data tersebut menjadi lebih akurat,” ujar Eka.

 

  1. Tunggakan pembayaran klaim AJB Bumiputera mencapai Rp 7 triliun

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kasus gagal bayar Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera terus bergulir. Yang terbaru, Ketua Badan Perwakilan Anggota (BPA) Bumiputera Nurhasanah ditetapkan sebagai tersangka karena mengabaikan perintah Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Mantan Komisaris Utama Bumiputera itu telah ditahan di rutan Bareskrim sejak 29 Juni lalu. Berkas Nurhasanah juga sudah dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan siap disidangkan.

Kapuspenkum Kejagung Leonard Eben Ezer Simanjuntak mengatakan, Nurhasanah ditetapkan sebagai tersangka karena mengabaikan, menghambat pelaksanaan dan kewenangan OJK.

Padahal, hal tersebut diatur pada Pasal 53 ayat 1 dan Pasal 54 ayat 1, Undang-Undang No. 21 tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Nurhasanah sebagai Ketua BPA Bumiputera dengan sengaja mengabaikan, tidak memenuhi serta menghambat pelaksanaan OJK,” terang Leornad, Jumat (2/7).

Leonard mengungkapkan, Nurhasanah tidak melaksanakan perintah OJK yang tertuang dalam surat Nomor : S-13/D.05 /2020 tanggal 16 April 2020 yang meminta ketua dan anggota BPA untuk menyelesaikan masalah kerugian yang dialami Bumiputera.  

Akibat perbuatan tersangka, Bumiputera diduga tidak mampu membayar klaim ke nasabah. Padahal, surat perintah tersebut dimaksudkan untuk melindungi kepentingan nasabah. Asal tahu saja, sampai saat ini tunggakan pembayaran klaim Bumiputera mencapai Rp 7 triliun

Sebelumnya, Kepala Departemen Penyidik Sektor Jasa Keuangan OJK, Tongam Lumban Tobing menyatakan, telah menyelesaikan tugasnya menyidik tersangka N dalam perkara AJB Bumiputera.

“Penyidik OJK telah menyelesaikan penyidikan dan menyerahkan tersangka N (Nurhasanah) ke Kejaksaan,” terang Tongam.

Tongam menambahkan bahwa untuk tersangka Nurhasanah, OJK telah menyelesaikan tugasnya. Namun, OJK tidak akan berhenti memeriksa AJB Bumiputera 1912.

“Penyidik OJK masih melanjutkan pendalaman penyidikan utk mengumpulkan bukti2 keterlibatan pejabat lainnya,” ujar Tongam.

Bahkan, tidak tertutup kemungkinan OJK memeriksa pihak di luar AJB Bumiputera.

 

  1. Meski ada pandemi covid-19, emiten asuransi tetap tebar dividen
Baca Juga :   7 Berita Kecelakaan Fatal Minggu ke-3 Oktober 2020

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pandemi covid-19 yang mempengaruhi kinerja lini bisnis tak terkecuali industri asuransi. Hanya saja, hal tersebut tampaknya tak menyurutkan beberapa emiten asuransi untuk membagikan dividen kepada pemegang sahamnya.

PT Asuransi Bina Dana Artha Tbk (ABDA) menjadi salah satu emiten asuransi yang membagikan dividen pada tahun ini sebesar Rp 67 per saham. Rencananya, pembayaran dividen tersebut akan dilakukan pada 9 Juli mendatang.

 “Sebesar Rp 41,59 miliar ditetapkan sebagai dividen final untuk Tahun Buku 2019 dan dibagikan dalam bentuk dividen tunai sebesar Rp 67 per saham,” tulis perusahaan dalam keterbukaan informasi.

Sebagai informasi, ABDA berhasil membukukan Laba Bersih sebesar Rp 138,19 miliar sepanjang tahun 2020. Ini berarti ada kenaikan 57,89% dibandingkan laba bersih tahun 2019 yang hanya sebesar Rp 87,52 miliar.

Tak hanya ABDA, emiten asuransi lainnya yang akan membagikan dividen adalah PT Lippo General Insurance Tbk (Lippo Insurance) dengan menggunakan 45% dari laba bersih konsolidasi setelah pajak tahun 2020 yang mencapai Rp 92,91 miliar.

 “Pembagian dividen tunai sebesar Rp 279 per saham. Ini kami lakukan karena kami berusaha menerapkan keseimbangan dalam mengelola kepentingan seluruh stakeholders,” ujar Presiden Direktur Lippo Insurance Agus Benjamin kepada KONTAN, Kamis (1/7).

Meskipun tahun ini masih dibayangi oleh pandemi covid-19, Agus optimis bakal mencapai target premi yang telah ditentukan perusahaan yaitu sebesar Rp 1,8 triliun.  Ia bilang perseroan telah melakukan investasi besar dalam hal operation excellence yang menjadi kunci pertumbuhan. 

Asal tahu saja, premi bruto yang telah ditorehkan Lippo Insurance sudah mencapai sekitar Rp 900 miliar hingga Mei 2021. Selain itu, laba setelah pajak perseroan sudah mencapai Rp 68 miliar. “Premi bruto dan laba bersih tumbuh dua digit secara yoy,” tambah Agus.

Menanggapi aksi tebar dividen yang dilakukan emiten Asuransi, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia Dody AS Dalimunthe bilang bahwa pembagian dividen menunjukkan kalau perusahaan tersebut bisa bertahan di tengah pandemi dengan memiliki kondisi keuangannya sedang bagus.

 

  1. Bos BRI Insurance sebut literasi asuransi secara digital lebih efektif

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, angka literasi asuransi Indonesia masih rendah dari negara lain yaitu sebesar 19,4% pada tahun 2019. Alhasil, Indonesia masih tertinggal dengan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand dan Singapura. 

Direktur Utama PT BRI Insurance (BRINS) Fankar Umran menyebut, ada kecenderungan bahwa daerah-daerah yang sulit dijangkau memiliki angka literasi yang lebih rendah dibandingkan kota-kota besar, yang ia sebut sebagai ‘The Unreached & The Less Literated’. “Saya pikir literasi harus dilakukan secara masif dengan cara-cara yang inovatif, Karena tantangannya begitu besar, mulai dari aksesibilitas, tingkat edukasi, demografis sampai dengan faktor geografis” kata Fankar di Jakarta, Rabu (30/6). 

Oleh karena itu, literasi asuransi secara digital dinilai lebih efektif karena memiliki daya jangkau yang lebih luas tanpa perlu bertatap muka, aksesibilitas yang lebih efisien, serta millennial friendly dan approachable untuk para pengguna sosial media. Hal ini juga didukung fakta bahwa 85% transaksi digital berasal dari generasi milenial dan Z. Mereka adalah 59% populasi Indonesia aktif menggunakan sosial media.

Namun demikian, pendekatan literasi asuransi secara digital ini masih hadapi tantangan seperti gap usia dan keterbatasan akses teknologi di daerah pedalaman menjadi faktor penentu keberhasilan penggalangan literasi asuransi secara digital. Ia melihat adanya empat hal penting yang menjadi strategi kami dalam meningkatkan literasi dan inklusi asuransi. Pertama, pemberdayaan komunitas dan asosiasi sebagai agen literasi. 

Kedua, pengembangan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Ketiga menciptakan tren yang saat ini menjadi social currency bagi generasi millennial dan yang keempat, utilisasi saluran distribusi. 

Dengan melakukan pemberdayaan melalui kerjasama dengan komunitas, koperasi, asosiasi, atau industri lain sebagai agen literasi hal ini dapat menjangkau masyarakat lebih luas melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.  “Mempunyai produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat juga menjadi kunci pelaku industri untuk dapat bertahan,” lanjutnya. 

Selain itu, menciptakan sebuah tren yang menjadi social currency, seharusnya menjadi fokus untuk berkomunikasi dengan generasi milenial untuk melakukan literasi finansial. 

Seperti Aplikasi BRINS Mobile yang berbasis Artificial Intelligence (AI), pengembangan penggunaan Gamification berbasis Augmented Reality (AR) yang tengah disiapkan BRINS, dan penggunaan media sosial menjadi tools yang menarik bagi generasi millennial.

Selanjutnya, utilisasi menjadi jawaban bagi permasalahan masyarakat Indonesia yang belum cerdas secara digital, khususnya di wilayah pedesaan. Oleh karena itu, kerjasama dengan agen bank laku pandai berperan penting untuk melakukan penetrasi ke masyarakat. 

Kerja sama tersebut juga dibekali pelatihan edukasi oleh BRINS melalui aplikasi BRINSAgent untuk semakin memudahkan mereka.  “Literasi secara digital dengan intermediary dapat menjadi solusi atas tantangan geografis, cost effectiveness, dan tentu saja dapat menjangkau wide-range, terlebih di tengah masa pandemi seperti ini,” tutupnya.

Informasi ini dipersembahkan oleh L&G Insurance Broker

HOTLINE L&G 24JAM: 0811-8507-773 (CALL – WHATSAPP CHAT – SMS)

website: lngrisk.co.id

E-mail: customer.support@lngrisk.co.id

Klik Untuk Menuliskan Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top