Serba Serbi Asuransi

Bagaimana Kondisi Terakhir Premi Emiten Asuransi?

Liga Asuransi – Sebagai istilah yang paling banyak digunakan di dalam dunia investasi dan pasar modal, istilah emiten Istilah ini mengacu pada suatu pihak swasta atau pemerintahan, yang melakukan penawaran suatu efek secara umum kepada masyarakat untuk bisa mendapatkan modal ataupun tambahan dana.

Secara garis besar, emiten adalah suatu perusahaan swasta atau BUMN yang mencari bantuan modal di bursa efek dengan menerbitkan efek dalam bentuk saham, obligasi, right issuewarrant, atau jenis lain. Dari sini, istilah surat berharga mulai sering digunakan, yang pada selanjutnya mulai diperjualbelikan di pasar modal.

Berdasarkan data yang dipaparkan Bursa Efek Indonesia, saat ini terdapat perusahaan emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia sudah mencapai sekitar 547 emiten dan sekitar 82 diantaranya adalah emiten obligasi. Mengacu pada fakta tersebut, pada kesempatan kali ini, kami tertarik untuk membagikan berita seputar bagaimana keadaan emiten terakhir pada industri asuransi di tengah keadaan yang penuh dengan ketidakpastian ini.

Dilansir dari kontan.co.id, Kamis, 6 Mei 2021, kinerja emiten asuransi umum mulai membaik. Di kuartal pertama dari lima emiten, tiga diantaranya berhasil membukukan kenaikan premi.

Salah satu emiten yang menorehkan hasil positif yaitu PT Lippo General Insurance Tbk (LPGI). Tercatat, premi bruto yang dibukukan oleh LPGI sebesar Rp 700 miliar atau tumbuh 19,9% year on year (yoy).

Hasil tersebut ditopang oleh meningkatnya sejumlah lini bisnis LPGI, seperti asuransi kebakaran atau properti yang meningkat hingga 36,4% yoy menjadi Rp 75 miliar.

“Perseroan ini telah melakukan investasi besar dalam hal operation excellence. Hal ini menjadi kunci pertumbuhan tahun ini,” ujar Agus Benjamin, Presiden Direktur LPGI kepada KONTAN, Rabu (5/5).

Dua segmen premi terbesar lainnya di LPGI selain asuransi properti adalah asuransi kesehatan dan asuransi kendaraan bermotor. Selama kuartal pertama, asuransi kesehatan naik 6,8% yoy menjadi sekitar Rp 494 miliar sedangkan asuransi kendaraan bermotor justru turun 6,7% yoy menjadi Rp 30,5 miliar.

“Tahun ini, tiga lini bisnis itu tetap akan menjadi unggulan dengan urutan kesehatan, properti, dan kendaraan bermotor,” ujar Agus.

PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk (AMAG) juga menorehkan kinerja yang cukup positif. Pendapatan premi bruto AMAG mengalami pertumbuhan hingga 14% yoy menjadi Rp 797,5 miliar dari tahun sebelumnya sebesar Rp 698,6 miliar.

Peningkatan terjadi di lini bisnis asuransi kesehatan yang tumbuh sebesar 113% yoy menjadi Rp 115 miliar. Sedangkan untuk lini bisnis asuransi kendaraan bermotor turun 11% yoy menjadi sekitar Rp 121 miliar.

Sama halnya dengan PT Asuransi Dayin Mitra Tbk (ASDM) yang juga berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan premi 32,6% dari Rp 129 miliar menjadi Rp 171 miliar hingga Maret 2021.

Namun demikian, sejumlah perusahaan asuransi juga masih mencatatkan penurunan kinerja. Misalnya, PT Asuransi Bina Dana Artha Tbk (ABDA) yang mencatat penurunan premi 26% yoy, dari Rp 238 miliar menjadi Rp 176 miliar pada kuartal I-2021.

Lalu PT Malacca Trust Wuwungan Insurance Tbk (MTWI) mencatatkan penurunan premi 18% yoy. Dari senilai Rp 98,5 triliun menjadi sebesar Rp 80,5 triliun hingga triwulan pertama 2021.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Dody AS Dalimunthe mengungkapkan, sejumlah perusahaan berhasil melakukan review bisnis. Seperti portofolio, lini bisnis asuransi.

Artikel ini dipersembahkan oleh L&G, a Smart Insurance Broker.

HOTLINE L&G 24JAM: 0811-8507-773 (CALL – WHATSAPP CHAT – SMS)

website: lngrisk.co.id

Baca Juga :   Mudik dengan Travel Gelap, Akankah Asuransi Menjamin?

E-mail: customer.support@lngrisk.co.id

Agen vs Broker Asuransi, Apa Perbedaannya?

Klik Untuk Menuliskan Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top