InsurTech

Bagaimana Blockchain Mengatasi Tantangan Industri Asuransi

Liga Asuransi – Setelah beberapa tahun belakangan ini kami mengamati, mulai ada perubahan dalam bisnis keuangan dan asuransi yang terjadi di Indonesia. Mulai dikembangkan sistem yang lebih aman dan terbuka serta cepat yang dapat diakses baik oleh perusahaan asuransi maupun oleh nasabah. Dan semuanya itu diklaim dapat dilakukan cukup dari gadget anda. Sistem itu adalah blockchain.

Blockchain merupakan sebuah buku besar terdistribusi (distributed ledger) terbuka yang dapat mencatat transaksi antara dua pihak secara efisien dan dengan cara yang dapat diverifikasi dan permanen. Untuk pemanfaatannya sebagai buku besar terdistribusi, blockchain biasanya dikelola oleh sebuah jaringan peer-to-peer secara kolektif dengan mengikuti protokol tertentu untuk komunikasi antar node dan mengkonfirmasi blok-blok baru. Setelah direkam, data dalam blok tidak dapat diubah secara retroaktif tanpa perubahan pada blok-blok berikutnya, yang membutuhkan konsensus mayoritas jaringan. (Wikipedia)

Blockchain dirancang dari awal agar aman (secure by design) dan merupakan contoh sistem komputasi terdistribusi dengan Byzantine Fault Tolerance (BFT) yang tinggi. Konsensus terdesentralisasi dapat dicapai dengan blockchain. Hal ini membuat blockchain cocok untuk merekam peristiwa, catatan medis, dan aktivitas pengelolaan record lainnya, seperti manajemen identitas, pemrosesan transaksi, dokumentasi barang bukti, ketertelusuran makanan (food traceability), dan pemungutan suara (voting).

Penggunaan blockchain menawarkan keuntungan yang signifikan dibandingkan teknologi lain, kunci di antaranya adalah keamanan data dan pembuatan jejak audit yang jelas. Karena sistem blockchain tidak dapat diubah dan tidak memerlukan pengawasan oleh otoritas pusat, penggunaan buku besar terdistribusi juga membuka opsi baru untuk kolaborasi yang aman antara pesaing dengan menghilangkan kebutuhan akan kepercayaan antara organisasi pihak ketiga.

Meskipun kemampuan blockchain sudah diketahui lebih aman dengan sistem yang ada sebelumnya, perusahaan asuransi masih terus melakukan riset aplikasi potensial blockchain yang bisa diintegrasikan dengan sistem bisnis mereka. Banyak yang sudah mulai sadar bahwa blockchain memiliki potensi yang penting dalam mengubah nilai asuransi, menciptakan pengalaman yang lebih aman, efisien, hemat biaya, dan juga ramah pelanggan.

Ada banyak manfaat atau model dari blockchain yang bisa diintegrasikan kedalam bisnis asuransi. Ketika kita berpikir mengenai integrasi blockchain, pertanyaan bisa dengan cepat berubah dari mulai, “Bagaimana blockchain dapat membantu asuransi?” menjadi “Kasus spesifik jenis apa yang bisa memeberikan nilai jangka panjang dan laba mengingat investasi yang cukup besar?”. Penggunaan blockchain ini tidak hanya pada perusahaan asuransi saja sebagai aktor utamanya, tetapi juga semua pelaku bisnis asuransi yang tidak hanya perusahaan asuransi itu sendiri misalnya broker asuransi, agen asuransi, agregator, daln lain sebagainya. Bagi pelaku bisnis asuransi, blockchain ini bisa sebagai tantangan untuk mengubah asumsi lama dan mulai memikirkan model bisnis asuransi yang baru. Sementara sebagian besar aktivitas blockchain masih dalam pembuktian konsep (Prove of Concept/POC).

Sudah ada beberapa contoh dari pelaku bisnis asuransi ini dalam menggunakan blockchain untuk mendukung bisnisnya dengan melihat beberapa manfaat potensial dari blockchain itu sendiri. Misalnya, pada 2017 AXA meluncurkan fizzy, platform asuransi parametrik otomatis untuk penerbangan yang tertunda. Fizzy mencatat informasi tentang asuransi penundaan penerbangan yang dibeli pelanggan menggunakan smart contract, dan menghubungkan ke database lalu lintas udara global untuk memantau status penerbangan. Jika pemegang polis mengalami penundaan penerbangan dua jam atau lebih seperti yang dilaporkan oleh informasi bandara, smart contract memicu mekanisme pembayaran setelah menerima konfirmasi penerbangan oleh pemegang polis dan Fizzy secara otomatis membayar pelanggan. Ini tidak hanya berarti bahwa pelanggan terhindar dari kerumitan mengisi formulir klaim atau berbicara dengan customer service, tetapi AXA juga menghindari keharusan menghabiskan waktu untuk memproses klaim melalui verifikasi data klaim.

Baca Juga :   Perkembangan Insurtech yang Sangat Cepat Akankah Mengganggu Industri Asuransi?

Contoh lain dalam penggunaan blockchain adalah untuk deteksi penipuan. Banyak pihak yang tidak bertanggung jawab sering mengeksploitasi kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan asuransi, misalkan data fisik yang kadang bisa dipalsukan. Pola penipuan dapat dideteksi lebih dini dengan menggunakan kumpulan data yang sangat luas, dan memungkinkan untuk berbagi data antar perusahaan asuransi dalam sistem keamanan yang terenkripsi. Secara fisik, hal tersebut tidak mungkin terjadi adanya pertukaran data antar perusahaan asuransi, namun pengembangan jaringan blockchain dapat memberikan cara bagi pesaing untuk berbagi data dengan aman, mendapatkan visibilitas ke dalam pola kriminal, dan mencegah kerugian di masa mendatang.

Disisi klaim, blockchain juga mampu memperbaiki kekurangan yang terjadi ketika terjadi bencana. Dimana ketika terjadi bencana, perusahaan asuransi, broker asuransi, agen asuransi perlu menyiapkan berbagai dokumen dan formulir elektronik untuk diberikan kepada pihak-pihak penilai klaim atau pengacara, dengan sistem blockchain akan membuat proses berbagi data menjadi lebih cepat dan lebih efisien, sehingga proses klaim bisa dilakukan dalam waktu yang lebih cepat.

Contoh lagi seperti yang dilakukan Birurisk dalam asuransi properti, ketika terjadi bencana alam baik itu gempa bumi, banjir, tanah longsor yang mengakibatkan properti anda hancur, dan akibatnya pemilik properti juga kesulitan hidup akibat bencana. Bayangkan, ketika terjadi bencana, semua dokumen ada di dalam rumah yang hancur, badan sakit/cedera, tentunya akan sangat tidak memungkinkan korban berpikir tentang asuransi, termasuk bongkar-bongkar puing untuk mencari dokumen atau kartu polis asuransi. Yang ada pikiran panik dan shock yang akan terjadi.

Dalam situasi seperti itu, sistem blockchain Birurisk bisa otomatis mendeteksi terjadinya bencana dengan menghubungkan sistem ke pusat data kegempaan ketika terjadi gempa, dan secara cepat bisa mengetahui objek yang diasuransikan berada dalam wilayah gempa atau tidak, kemudian bisa memperkirakan dampak kerusakan yang terjadi, dan otomatis akan mencairkan klaim itu langsung kepada nasabah. Tanpa perlu laporan dari nasabah kepada pihak asuransi.

Dengan melihat perkembangan teknologi yang terjadi belakangan ini, bukan tidak mungkin bahwa apa yang dulu kita kira itu mustahil terjadi, tidak akan terjadi. Tapi sekarang semuanya itu bisa terjadi dengan bantuan teknologi. Kedepannya pasti akan jauh lebih menarik lagi.

Klik Untuk Menuliskan Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top