InsurTech

Enam (6) Model Bisnis Insurtech yang Berkembang Pada Saat Ini

Liga Asuransi – Sekitar 1.500 startup insurtech beroperasi di seluruh dunia. Lebih dari $ 9 miliar modal terungkap telah berkomitmen untuk lebih dari 700 investasi insurtech dari 2014 hingga 2017. Insurtech baru ini hadir dalam setidaknya 3 bentuk, sejumlah perusahaan asuransi, agen, dan pialang yang menawarkan layanan dalam satu atau lebih banyak kategori produk.

Dalam hal proses digital, asuransi tumpukan penuh berarti perusahaan asuransi berlisensi penuh, yang diatur oleh otoritas pengawas (misalnya FCA di Inggris Raya, BaFin di Jerman, regulator berbasis negara bagian di Amerika Serikat). Sedangkan broker akan disebut MGA atau Managing General Agent. MGA biasanya menghadapi pelanggan dan melakukan sebagian besar aktivitas perusahaan asuransi tradisional. Namun, bermitra dengan pembawa risiko pihak ketiga yang menjadi rekanan kontrak yang disebutkan dalam polis asuransi dan pada akhirnya bertanggung jawab atas klaim asuransi pelanggan.

Model bisnis insurtech dapat diklasifikasikan menjadi enam kategori:

  1. Marketplace / Aggregator

Model distribusi yang berkolaborasi dengan beberapa perusahaan asuransi dan / atau produk. Model seperti ini yang saat ini banyak sekali berkembang di Indonesia. Menyasar produk-produk asuransi yang memiliki ukuran pasar yang sangat besar contohnya asuransi kendaraan bermotor (mobil/motor), asuransi kesehatan, asuransi jiwa, dan asuransi properti (rumah, ruko, apartment). Seperti halnya marketplace, konsumen dengan mudah membandingkan fitur produk asuransi dari setiap perusahaan asuransi sebagai vendor. Dengan model ini, konsumen dengan mudah membeli produk asuransi bahkan hanya dalam hitungan menit.

  1. Direct Insurer / Tied Agent

Sistem penjualan produk asuransi dimana pelakunya adalah agen atau broker yang bekerjasama dengan 1 atau lebih perusahaan asuransi.

  1. Insurance Management

Mengembangkan pada pelayanan manajemen asuransi mulai dari manajemen kontrak dan kebijakan. Dimana pelayanan tersebut dapat diakses dengan lebih mudah dari sebelumnya. Mengutamakan kemudahan akses melalui perangkat mobile, sehingga manajemen asuransi bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun.

  1. Sales Tools / Software

Perusahaan teknologi asuransi yang menawarkan alat dan perangkat lunak / software kepada pihak ketiga yang terkait dengan asuransi, misalkan perusahaan asuransi dan pialang atau broker asuransi.

  1. Peer-2-Peer
Baca Juga :   Big Data: Mendorong Asuransi Untuk Lebih Menyesuaikan Diri di Era Digital

Model ini berfokus pada produk yang mengganti (sebagian) premi asuransi atau di mana klaim dan kerusakan dibagi di antara kelompok pembeli tertutup. Sistem ini banyak dikembangkan dengan menggunakan blockchain, sehingga distribusinya menjadi lebih cepat, lebih terbuka, dan lebih aman.

  1. Crowdsurance

Pelanggan hanya membayar biaya pertanggungan yang sebenarnya. Pada akhir setiap bulan, biaya klaim apa pun dibagi secara adil di antara pelanggan, dengan premi maksimum individu dibatasi pada “tarif pasar”. Jika tidak ada klaim, premi bulan itu nol.

Dari beberapa model insurtech yang ada diatas, Indonesia masih didominasi oleh model bisnis yang pertama yaitu Marketplace atau Aggregator. Dalam model ini saat ini cukup didominasi oleh beberapa pemain yang sudah cukup kita kenal, diantaranya adalah Cekaja.com, Cekpremi.com, Futuready.com, Rajapremi.com, Qoala.com, Cermati.com, dsb. Masing-masing dari pemain itu saat ini sedang saling menunjukkan eksistensinya dengan berbagai strategi mereka masing-masing untuk menarik pelanggan. Sebagai pelanggan, tentunya ini cukup menarik karena ada opsi yang bisa diambil oleh pelanggan, ditambah semua itu disajikan secara user friendly atau mudah dimengerti.

Masih banyak model insurtech yang belum dikembangkan atau masih sedikit yang mengembangkan saat ini di Indonesia dengan masing-masing memiliki target pasar yang berbeda. Mengingat pasar asuransi di Indonesia ini masih sangat besar, sehingga masih layak jika semua itu nanti akan berkembang di negara ini sehingga dunia asuransi mampu bertransformasi menuju ke digital dan asuransi bisa dimengerti dan dirasakan semua orang dengan lebih mudah.

Artikel ini dipersembahkan oleh L&G Risk Broker Asuransi, Smart Insurance Broker in Indonesia.

Klik Untuk Menuliskan Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top