Asuransi Alat Berat

Prospek Industri Alat Berat cerah, Tumbuh 40 Persen pada 2022

Liga Asuransi – Sidang pembaca yang luar biasa, apa kabar? Di penghujung tahun 2021 mari sejenak kita merendahkan hati untuk mengucap syukur atas segala Rahmat dan Nikmat yang Allah berikan kepada kita selama tahun ini, sehingga kita bisa melewati tahun yang penuh dengan gejolak dan tantangan akibat lanjutan dari wabah COVID-19.

Apapun hasil yang kita capai, baik atau buruk adalah kenyataan yang kita perlu terima dengan lapang dada. Karena sesungguhnya yang lebih penting adalah kemana kita akan melangkah. Tinggal beberapa hari lagi kita akan sampai di pintu gerbang tahun 2020 yang penuh harapan.

Sebagai broker asuransi kami sudah melakukan tinjau ekonomi secara umum dan dari berbagai industri antara industri konstruksi, industri tambang dan kini dari segi industri alat berat. Hasilnya dapat ditarik kesimpulan bahwa tahun 2020 adalah tahun kebangkitan ekonomi.

Salah satu penunjang pertumbuhan ekonomi adalah alat berat. Peran alat berat sangat penting di dalam peningkatan produk pertambangan, konstruksi dan perkebunan.

Menurut pengamat, produksi alat berat diperkirakan akan tumbuh sebesar 40%. Suatu peningkatan yang luar biasa jauh diatas pertumbuhan bisnis yang lain.

Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai prospek pertumbuhan industri alat berat di Indonesia pada tahun 2020, berikut ini kami tuliskan berita yang dimuat di beberapa media online. Jika Anda tertarik dengan tulisan ini silahkan dibagikan kepada rekan-rekan Anda agar mereka juga paham seperti Anda.

  • Bisnis.com 06 Desember 2021, Produksi Alat Berat Diproyeksi Tumbuh 40 Persen pada 2022

Kinerja produksi alat berat yang moncer tak lepas dari pengaruh lonjakan harga-harga komoditas. Pada tahun depan, fokus industri alat berat dipastikan masih pada sektor pertambangan. 

Produksi alat berat diproyeksikan tumbuh antara 30 persen hingga 40 persen pada tahun depan. Ketua Umum Himpunan Industri Alat Berat Indonesia (Hinabi) Jamaludin mengatakan produksi pada 2022 akan mendekati tren 2018 yang melebihi angka 8.000 unit. “Tahun depan proyeksi akan naik 30-40 persen, level kira-kira sama dengan produksi 2018,” kata Jamaludin kepada Bisnis, Senin (6/12/2021). 

Sementara itu, target penjualan sepanjang tahun dipatok menembus angka 6.000 unit. Jamaludin optimistis target tersebut dapat tercapai mengingat realisasi sampai dengan kuartal III/2021 telah mencapai 4.584 unit. Jumlah itu telah melampaui capaian sepanjang tahun lalu sebesar 3.427 unit alat berat. 

Pada tahun depan, fokus industri dipastikan masih pada sektor pertambangan. Berdasarkan catatan Hinabi, produksi sebesar 4.584 unit sampai dengan kuartal ketiga 2021 terdiri atas hydraulic excavator 4.232 unit, motor grader 57 unit, bulldozer 239 unit, dan dump truck 56 unit. 

“Sektor yang paling utama tentunya pertambangan,” imbuhnya. Sebelumnya Jamaludin mengatakan permintaan alat berat di dalam negeri sebenarnya bisa melebih 6.000-unit untuk tahun ini. Namun demikian, pihaknya membatasi produksi karena terkendala ketersediaan pasokan komponen. 

Sebanyak 40 persen hingga 50 persen pasokan komponen alat berat disuplai dari dalam negeri. Sementara sisanya harus di impor, salah satunya dari Jepang. Adapun, data dari Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI) menunjukkan bahwa hingga Agustus 2021, penjualan alat berat di seluruh sektor mencapai 8.821 unit, meningkat 99 persen dari penjualan pada Januari-Agustus 2020, sebanyak 4.440 unit. 

Peningkatan penjualan terbesar pada Januari-Agustus 2021 terjadi pada alat berat di sektor pertambangan yang mencapai 206 persen menjadi 3.062 unit, dari 1.001 unit di periode yang sama 2020. Hal ini didorong oleh situasi harga batu bara dan nikel yang masih tinggi, serta perkiraan meningkatnya jumlah smelter nikel yang beroperasi. 

Kemudian, untuk alat berat di sektor kehutanan meningkat 84 persen menjadi 1.487 unit, sektor konstruksi naik 64 persen menjadi 3.449 unit, dan sektor agro sebesar 54,7 persen menjadi 823 unit. Peningkatan penjualan terbesar pada Januari-Agustus 2021 terjadi pada alat berat di sektor pertambangan yang mencapai 206% menjadi 3062 unit, dari 1.001 unit di periode yang sama tahun 2020. 

Ini didorong oleh situasi harga batubara dan nikel yang masih tinggi, serta perkiraan meningkatnya jumlah smelter nikel yang beroperasi. Kemudian, untuk alat berat di sektor kehutanan meningkat 84 persen menjadi 1.487 unit, sektor konstruksi naik 64 persen menjadi 3.449 unit, dan sektor agro sebesar 54,7 persen menjadi 823 unit. Selanjutnya, peningkatan produksi alat berat juga berpengaruh terhadap meningkatnya kebutuhan bahan baku, seperti plat baja maupun produk-produk komponen.

  • TRIBUNNEWS.COM, Pasar Alat Berat Masih Punya Potensi Besar di Tahun 2022
Baca Juga :   Waspadalah, Inilah Salah Satu Penyebab Klaim Asuransi Alat Berat Anda Ditolak

Emiten distributor alat berat PT Intan Baruprana Finance Tbk (IBF) meyakini dukungan kreditur dan pemegang saham membuat perseroan bisa bertahan di kondisi pandemi Covid-19.

Direktur Keuangan IBF Alexander Reyza mengatakan pasar alat berat masih memiliki potensi besar di tahun 2022.

“Dengan meningkatnya permintaan produk tambang seperti batubara, nikel dan tembaga, diharapkan penjualan alat-alat berat nasional juga akan meningkat di masa mendatang,” kata Alexander dalam public expose digelar virtual, Jumat (17/12/2021).

Mempertimbangkan hal tersebut, maka IBF akan tetap fokus pada pembiayaan produk alat berat dengan membidik sektor industri pertambangan, konstruksi, perkebunan dan logistik.

IBF juga didukung grup usaha PT Intraco Penta Tbk yang sudah berpengalaman lebih dari 50 tahun.

Hingga 30 September 2021, Perseroan mencatat Total Aset sebesar Rp 784,3 miliar, atau turun sebesar 10,51 persen dari akhir tahun 2020.

Untuk total piutang pembiayaan (netto) dalam bentuk pembiayaan investasi, modal kerja, pembiayaan multiguna dan pembiayaan yang berbasis syariah sampai dengan 30 September 2021 tercatat sebesar Rp. 406,9 miliar.

IBF mengalami negative ekuitas sebesar Rp 398,6 milyar yang disebabkan oleh pembebanan impairment atas debitur-debitur Non Performing Financing.

Namun di tahun 2022, Perseroan optimis mendapatkan sumber pendanaan baru dari calon investor strategis sehingga berdampak pula terhadap perbaikan kondisi keuangan IBF.

 

  • KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT United Tractors Tbk (UNTR) optimistis, prospek bisnis di tahun depan makin cerah. Tumbuh 20%

Manajemen perusahaan menilai, masih banyak kebutuhan alat berat di hampir semua sektor bisnis, yakni mulai dari tambang, konstruksi, hingga agribisnis.

Sekretaris Perusahaan United Tractors Sara K Loebis memaparkan, prospek bisnis di 2022 diperkirakan masih positif, dengan masih banyaknya kebutuhan alat berat di hampir setiap sektor.

Sara melihat, segmen yang membutuhkan paling banyak alat berat dan layanan pendukung adalah pertambangan. Di sisi lain, sektor ini juga didukung oleh harga komoditas yang positif. Tak hanya pertambangan, sektor konstruksi dan perkebunan juga menunjukkan permintaan yang positif.

“Kami perkirakan penjualan tahun depan dapat meningkat sekitar 20% year on year (yoy),” jelasnya kepada Kontan.co.id, Jumat (3/12).

Strategi yang dipersiapkan UNTR untuk mewujudkan target tersebut adalah, memfokuskan pada  pemenuhan kebutuhan pelanggan terhadap alat berat dan layanan purna jual yang unggul. Hal ini dilakukan agar pelanggan  dapat mengembangkan usahanya secara optimal dan memanfaatkan momentum yang positif.

Sara menjelaskan, mendekati akhir tahun ini, pihaknya mengutamakan pemenuhan pengiriman atau penjualan unit yang sudah terjual. “Dan sejauh ini, indikasinya sudah sesuai dengan proyeksi UNTR yaki total penjualan di sepanjang 2021 sekitar 3.000 unit alat berat,” ujarnya.

Di bulan Oktober 2021, UNTR mencatatkan penjualan alat berat Komatsu sebanyak 396 unit. Realisasi ini naik 30,2% dari penjualan di September 2021 sebesar 304 unit. Adapun, jika diakumulasi penjualan dari Januari-Oktober 2021, United Tractors telah menjual  2.590 unit alat berat Komatsu.

Pada bulan Oktober 2021, sektor pertambangan masih mendominasi penjualan alat berat UNTR yakni sebesar 52%. Disusul, sektor konstruksi sebesar 25%, kehutanan 13%, dan agribisnis 10%. Sebagai informasi, pangsa pasar Komatsu per-Oktober 2021 sebesar 22%.

Alat Berat, Resiko Tinggi 

Sebagai broker dan konsultan asuransi kami ingin mengingatkan bahwa alat berat termasuk aset yang beresiko tinggi. Sering sekali terjadi kecelakaan saat dioperasikan.

Salah satu solusi yang tepat untuk mengatasi kerugian akibat kecelakaan adalah dengan mengasuransikan alat berat tersebut. Tapi sayangnya tidak semua perusahaan asuransi bisa memberikan jaminan yang terbaik, terutama jika terjadi klaim.

Cara terbaik untuk mendapatkan jaminan asuransi alat berat adalah dengan menggunakan jasa perusahaan broker asuransi.

Salah satu perusahaan asuransi yang paling berpengalaman dan sudah membayar klaim hingga ratusan miliar rupiah adalah L&G Insurance Broker.

Untuk semua kebutuhan asuransi Anda hubungi L&G sekarang juga!

Mencari Produk Asuransi? Hubungi Kami Sekarang Juga

HOTLINE L&G 24JAM: 0811-8507-773 (Call – Whatsapp – SMS)

website: lngrisk.co.id

E-mail: customer.support@lngrisk.co.id

Kenapa Broker Asuransi sering juga disebut sebagai Advocate asuransi?

Klik Untuk Menuliskan Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top