Perkembangan terbaru di industri asuransi menunjukkan arah yang semakin jelas: perlindungan risiko kini bergerak mengikuti perubahan gaya hidup, teknologi, dan struktur demografi masyarakat. Dari masifnya kampanye literasi keuangan ke daerah, dorongan kebijakan fiskal yang menggairahkan asuransi properti, hingga semakin diakuinya peran asuransi dalam perencanaan pensiun—seluruh dinamika ini menandai upaya industri memperluas relevansi di tengah rendahnya penetrasi asuransi nasional. Pada saat yang sama, inovasi produk mulai merambah segmen yang sebelumnya terpinggirkan, termasuk kendaraan klasik, mobil listrik, perjalanan digital, serta penguatan regulasi berbasis risiko oleh OJK. Edisi mingguan ini merangkum tujuh berita asuransi penting yang mencerminkan transformasi struktur dan strategi industri asuransi Indonesia.
Gaspol Literasi Keuangan ke Daerah! Kampanye Nasional Ini Targetkan Keluarga Indonesia Lebih Siap Hadapi Risiko
Sun Life Indonesia mempertegas komitmennya dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan nasional melalui perluasan kampanye bertajuk “The One You Can Rely On” ke berbagai kota besar di Indonesia. Dimulai dari Bandung, kampanye ini akan berlanjut ke Surabaya, Makassar, Tanjung Pinang, hingga Palembang. Langkah ini dinilai strategis di tengah rendahnya tingkat penetrasi asuransi di Indonesia yang masih berada di kisaran 2–3 persen, mencerminkan minimnya perlindungan finansial pada sebagian besar keluarga.
Sun Life melihat meningkatnya biaya kesehatan dan bertambahnya usia harapan hidup sebagai risiko nyata yang perlu diantisipasi sejak dini. Oleh karena itu, asuransi didorong untuk tidak lagi dipandang sebagai kebutuhan sekunder, melainkan bagian penting dari perencanaan keuangan jangka panjang. Chief Marketing Officer Sun Life Indonesia, Maika Randini, menegaskan bahwa selama 30 tahun, Sun Life hadir sebagai “teman seperjalanan” keluarga Indonesia, mendampingi dari tahap perlindungan dasar hingga perencanaan legacy lintas generasi.
Kepercayaan masyarakat tercermin dari pertumbuhan bisnis Sun Life yang mencapai sekitar 50 persen sepanjang 2025. Untuk memperluas akses, Sun Life mengandalkan distribusi multi-kanal melalui kerja sama perbankan dan jaringan keagenan, termasuk produk konvensional dan syariah. Memasuki 2026, perusahaan menegaskan tiga fokus utama: edukasi finansial, akses perlindungan di setiap fase kehidupan, serta inovasi berkelanjutan dengan layanan digital yang lebih sederhana, terjangkau, dan efisien.
Insentif PPN DTP Jadi Booster! Premi Asuransi Properti Diprediksi Ngebut Lagi di 2026
Perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk pembelian rumah hingga akhir 2026 dinilai Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) berpotensi menjadi katalis pertumbuhan premi asuransi properti. Ketua Umum AAUI Budi Herawan menyebut kebijakan ini akan mendorong transaksi rumah tapak dan rumah susun, khususnya di segmen menengah, yang secara langsung meningkatkan kebutuhan perlindungan asuransi.
Hingga Kuartal III 2025, asuransi properti masih menjadi kontributor terbesar premi asuransi umum dengan pangsa sekitar 29%. Tak hanya hunian residensial, cakupan asuransi properti juga meluas ke sektor komersial dan industri seperti pabrik, perkantoran, pusat belanja, dan pergudangan. Karena itu, setiap kebijakan yang menggairahkan sektor properti diyakini berdampak langsung pada peningkatan permintaan asuransi.
Meski demikian, AAUI menilai dampak insentif ini bersifat bertahap karena bergantung pada realisasi transaksi dan serah terima properti. Untuk memaksimalkan peluang, perusahaan asuransi didorong memperkuat kolaborasi dengan perbankan melalui skema KPR, menggandeng pengembang, serta memanfaatkan kanal digital.
Di sisi lain, AAUI mengingatkan pentingnya manajemen risiko yang disiplin. Risiko bencana alam seperti banjir, gempa, dan kebakaran masih menjadi tantangan utama. Dengan penguatan underwriting, reasuransi, dan pemetaan risiko geografis, AAUI optimistis prospek asuransi properti 2026 tetap positif, meski dengan pertumbuhan yang lebih selektif dan berkelanjutan.
Rajin Investasi Belum Cukup! Ini Alasan Asuransi Jadi Kunci Pensiun Aman
Perencanaan masa pensiun selama ini kerap dipahami sebatas menabung dan berinvestasi. Namun, Head of Investment & Insurance Product Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Djoko Sulistyo, menegaskan bahwa asuransi memiliki peran krusial dalam menjaga keberlangsungan rencana keuangan jangka panjang. Hal ini disampaikannya dalam peluncuran kampanye “Pensiun Gak Susah”.
Djoko menjelaskan, banyak orang sudah disiplin mengalokasikan sekitar 10 persen penghasilan untuk investasi. Sayangnya, perhitungan tersebut bisa runtuh seketika jika terjadi risiko tak terduga seperti sakit berat, kecelakaan, atau meninggal dunia yang menyebabkan sumber pendapatan terhenti. Dalam kondisi tersebut, rencana pensiun yang sudah disusun matang bisa mandek karena aliran dana terputus. Di sinilah asuransi berfungsi sebagai pelindung agar tujuan keuangan tetap berjalan.
Ia juga mendorong masyarakat untuk memiliki asuransi sejak usia muda. Selain premi yang lebih terjangkau, perlindungan asuransi perlu disesuaikan dengan kemampuan finansial dan tahap kehidupan masing-masing individu.
Terkait penetrasi asuransi, Djoko mengakui angkanya masih rendah di kisaran 2–3 persen. Meski begitu, ia melihat tren minat masyarakat mulai meningkat seiring masifnya edukasi dan informasi di media sosial. Tantangan terbesar saat ini adalah kedisiplinan: dari mengubah kesadaran menjadi aksi, hingga menjaga polis tetap relevan seiring perubahan kebutuhan hidup.
Mobil Tua Kini Tak Lagi Anak Tiri! Asuransi Mulai Bidik Kendaraan Klasik
Industri asuransi kendaraan bermotor di Indonesia mulai menunjukkan pergeseran strategi. Jika sebelumnya perlindungan asuransi identik dengan mobil baru atau berusia muda, kini perusahaan asuransi mulai melirik segmen kendaraan hobi dan mobil klasik sebagai pasar potensial yang selama ini kurang terlayani. Tren ini menjawab kebutuhan para kolektor dan penggemar otomotif yang memiliki kendaraan bernilai historis tinggi namun kerap kesulitan mendapatkan perlindungan yang sesuai.
Perubahan tersebut terlihat dari langkah PT BRI Asuransi Indonesia (BRI Insurance) yang resmi meluncurkan identitas produk terbarunya, Otomaxy. Melalui produk ini, kendaraan lawas yang masih dipertahankan dalam kondisi orisinal kini bisa memperoleh perlindungan, baik Comprehensive maupun Total Loss Only (TLO). Salah satu terobosan utamanya adalah hadirnya varian Otomaxy Classic yang secara khusus ditujukan bagi mobil produksi tahun 1995 ke bawah dengan nilai historis tertentu.
Direktur Utama BRI Insurance, Budi Legowo, menegaskan bahwa karakter kendaraan saat ini semakin beragam, sehingga asuransi tidak lagi bisa disamaratakan. Setiap kendaraan memiliki teknologi, nilai, dan risiko berbeda yang membutuhkan solusi proteksi lebih fleksibel dan spesifik.
Tak hanya menengok masa lalu, Otomaxy juga mengantisipasi masa depan melalui varian Otomaxy Electric Vehicle (EV). Produk ini dirancang untuk melindungi risiko khas mobil listrik, seperti kerusakan baterai dan sistem tegangan tinggi. Langkah ini menunjukkan bahwa asuransi kendaraan mulai bertransformasi mengikuti evolusi gaya hidup dan teknologi otomotif.
Source: https://www.inilah.com/tren-baru-asuransi-otomotif-mobil-tua-dan-koleksi-kini-bisa-diasuransikan
Traveler Wajib Tau! Asuransi Perjalanan Kini Serba Digital, Klaim Lebih Cepat dan Cashless
Meningkatnya mobilitas masyarakat untuk keperluan bisnis maupun liburan mendorong perubahan signifikan dalam kebutuhan perlindungan perjalanan. Risiko seperti keterlambatan penerbangan, gangguan kesehatan saat bepergian, hingga pembatalan perjalanan kini menjadi perhatian utama para traveler. Asuransi perjalanan pun tidak lagi dipandang sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari perencanaan perjalanan yang matang.
Seiring perubahan tersebut, konsumen menuntut layanan asuransi yang serba cepat, praktis, dan terintegrasi secara digital. Proses pembelian polis hingga klaim diharapkan dapat dilakukan dengan mudah tanpa prosedur yang berbelit. Menjawab kebutuhan ini, Amanyaman menjalin kemitraan strategis dengan PT Asuransi MSIG Indonesia untuk menghadirkan produk asuransi perjalanan berbasis digital yang dirancang khusus bagi traveler masa kini.
Wakil Presiden Direktur MSIG Indonesia, Bernard P. Wanandi, menegaskan kolaborasi ini bertujuan memberikan perlindungan komprehensif dengan layanan yang mudah diakses. Produk ini menawarkan berbagai fitur unggulan, mulai dari perlindungan biaya medis dengan sistem cashless, santunan keterlambatan penerbangan setelah empat jam penundaan tanpa memandang penyebab, perlindungan risiko penolakan visa, hingga penggantian biaya pemesanan ulang tiket.
Ke depan, digitalisasi asuransi perjalanan diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan industri, seiring meningkatnya ekspektasi konsumen terhadap layanan yang cepat, transparan, dan memberikan rasa aman selama bepergian.
Mulai 2026, Asuransi Wajib Lebih Sehat & Transparan! Ini Dampak POJK Baru OJK ke Industri Asuransi
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi memperkuat fondasi industri perasuransian, penjaminan, dan dana pensiun melalui penerbitan dua regulasi strategis, yaitu POJK Nomor 33 Tahun 2025 dan POJK Nomor 36 Tahun 2025. Kedua aturan ini menjadi langkah besar OJK untuk memastikan industri keuangan nonbank tumbuh lebih sehat, berdaya saing, dan berkelanjutan di tengah meningkatnya kompleksitas risiko.
POJK 33/2025 mengatur penilaian tingkat kesehatan perusahaan asuransi, lembaga penjamin, dan dana pensiun dengan pendekatan berbasis risiko. Penilaian tidak hanya melihat kinerja keuangan, tetapi juga tata kelola, profil risiko, rentabilitas, permodalan, hingga prospek usaha. Penilaian dilakukan secara individual maupun konsolidasi bagi grup usaha, dan hasil self-assessment wajib dilaporkan ke OJK. Aturan ini mulai berlaku 1 Januari 2026.
Sementara itu, POJK 36/2025 berfokus pada penguatan ekosistem asuransi kesehatan dengan menekankan perlindungan pemegang polis. Regulasi ini mengatur desain produk, manajemen risiko, pemanfaatan layanan kesehatan, hingga kewajiban perusahaan memiliki kapabilitas medis dan digital. OJK juga membatasi fitur pembagian risiko agar tidak memicu overutilisasi, dengan skema co-payment maksimal 5 persen atau deductible tahunan.
Di tengah penguatan regulasi tersebut, kinerja industri asuransi tetap stabil. Hingga November 2025, total aset industri mencapai Rp1,19 kuadriliun dengan tingkat solvabilitas yang terjaga, menandakan industri siap menghadapi era pengawasan yang lebih ketat dan terstruktur.
Asuransi & Bank di APAC Ngebut Digital! Belanja TI Meroket, Cloud dan AI Jadi Senjata Utama
Belanja layanan teknologi informasi (TI) di kawasan Asia-Pasifik (APAC) diproyeksikan terus tumbuh pesat, didorong oleh sektor asuransi, perbankan, dan lembaga publik yang tengah mempercepat modernisasi teknologi. Tekanan regulasi yang semakin ketat serta sistem lama yang menua memaksa organisasi-organisasi ini berinvestasi besar pada solusi digital yang lebih aman, efisien, dan patuh aturan.
Laporan Global IT Services Market Forecast, 2025–2029 dari Forrester memprediksi belanja layanan TI global akan tumbuh dengan CAGR 4,8 persen hingga 2029, meskipun ekonomi global masih menghadapi tantangan produktivitas. Di APAC, cloud menjadi motor pertumbuhan utama, dengan Infrastructure as a Service (IaaS) diperkirakan melonjak hingga CAGR 21,9 persen sampai 2030.
Institusi keuangan meningkatkan investasi pada cloud, otomatisasi, dan keamanan siber untuk memenuhi kebutuhan kepatuhan dan mengurangi risiko teknologi usang. Di Australia dan Singapura, sektor publik dan pertahanan bahkan mulai mengeksplorasi AI generatif untuk mendukung pengambilan keputusan. Sementara itu, Goldman Sachs memperkirakan 10–20 persen perusahaan di China akan mengadopsi genAI pada 2030.
Permintaan kuat ini juga mendorong konsolidasi industri. Perusahaan global seperti Accenture, Capgemini, dan NTT DATA agresif melakukan akuisisi dan ekspansi regional. Tren ini menegaskan bahwa transformasi digital, cloud, dan AI bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis bagi sektor keuangan dan publik di APAC.
Rangkaian isu tersebut menegaskan bahwa masa depan asuransi tidak lagi bertumpu pada pendekatan seragam, melainkan pada pemahaman risiko yang lebih presisi, teknologi yang adaptif, serta tata kelola yang semakin ketat. Masuknya mobil klasik ke dalam radar asuransi, percepatan digitalisasi layanan perjalanan, penguatan regulasi kesehatan dan solvabilitas, hingga lonjakan belanja TI di sektor keuangan menunjukkan satu benang merah: asuransi harus berevolusi seiring perubahan risiko, bukan sekadar memperluas volume premi. Tanpa edukasi yang berkelanjutan, underwriting yang disiplin, dan transformasi digital yang terukur, inovasi berisiko melahirkan eksposur baru. Karena itu, keseimbangan antara inklusi, inovasi, dan manajemen risiko akan menjadi penentu apakah industri asuransi mampu tumbuh berkelanjutan atau justru menghadapi tantangan struktural di masa depan.
—
JANGAN BUANG WAKTU ANDA DAN AMANKAN KEUANGAN DAN BISNIS ANDA DENGAN ASURANSI YANG TEPAT.
HOTLINE L&G 24 JAM: 0811-8507-773 (TELEPON – WHATSAPP – SMS)
Situs web: lngrisk.co.id
Email: halo@lngrisk.co.id
—

