Asuransi Pertambangan

Ini Daftar Kecelakaan Tambang antara tahun 2020-2021

Liga Asuransi – Sidang pembaca yang luar biasa, apa kabar? Salah satu aspek yang perlu menjadi perhatian pengusaha dan manajemen perusahaan tambang adalah manajemen resiko. Karena pentingnya aspek ini rata-rata perusahaan tambang mempunyai divisi khusus yang dikenal dengan nama Health and Safety Environment (HSE). Atau divisi khusus yang bertugas untuk usaha-usaha pencegahan dan penanggulangan kecelakaan.

Sudah tidak diragukan lagi bahwa tambang adalah industri yang sarat dengan resiko. Hal ini dapat dimaklumi karena tambang beroperasi di alam terbuka dengan kondisi yang ekstrim. Berada di pegunungan, bebatuan yang terjal, jauh dari jalan umum. Menggunakan alat-alat pertambangan dengan ukuran besar dan banyak.

Cuaca yang sering berubah-ubah juga menjadi penyebab tingginya kecelakaan. Jika hujan turun tambang menjadi licin yang menyebabkan alat berat, kendaraan lainnya mudah tergelincir. Tertimpa tanah longsor dan genangan air yang menyebabkan banjir.

Tidak salah jika industri asuransi sebagai pihak penjamin resiko memasukkan industri tambang ke dalam kelompok resiko tinggi (high risks). Sering sekali terjadi klaim dan jumlahnya sangat besar. Selain itu proses penyelesaiannya rumit yang melibatkan banyak pihak.

Akibatnya tidak banyak perusahaan asuransi yang mempunyai jaminan asuransi untuk tambang. Hanya beberapa perusahaan asuransi saja, mereka meminta persyaratan yang banyak dan termasuk dengan tarif premi yang wajar dan memadai.

Karena tidak banyak pilihan asuransi, sebaiknya pemilik tambang atau kontraktor tambang dapat lebih menghargai penawaran asuransi yang diajukan terutama yang ditawarkan oleh broker asuransi. Tidak mudah meyakinkan asuransi untuk menjamin resiko tambang.

Untuk melengkapi informasi tentang risiko industri pertambangan, berikut ini kami tuliskan beberapa kecelakaan yang terjadi di seputar industri tambang sejak 2 tahun terakhir ini. Ada yang terjadi di luar negeri dan juga yang terjadi di Indonesia. Informasi ini kami kumpulkan dari beberapa media online seperti suara.com dan Ruangenergi.com.

Dua Kecelakaan Tambang Batu Bara di China, 2 Orang Tewas dan 12 Lainnya Hilang

Suara.com 

Kedua kematian itu terjadi di sebuah tambang yang dikelola oleh Henan Hebi Coal and Electricity Co pada Jumat (4/6) malam. Pihak berwenang provinsi tengah Henan meluncurkan rencana tanggap darurat, kata CCTV.

Tidak disebutkan secara rinci penyebab kecelakaan yang menyebabkan enam orang hilang itu.

Bulan lalu, Pemerintah Provinsi Henan menyetujui pembukaan kembali tambang lain yang dioperasikan oleh Hebi setelah ditutup karena melanggar peraturan.

Di utara negara itu, enam orang lainnya dilaporkan hilang pada hari Sabtu (5/6) setelah kecelakaan di sebuah pabrik pertambangan batu bara di provinsi Heilongjiang, kata penyiar tersebut.

China telah melakukan inspeksi keselamatan di tambang batu bara di seluruh negeri karena rekor harga batu bara yang tinggi mendorong para penambang untuk meningkatkan produksi demi memenuhi kesenjangan pasokan.

Pada bulan Mei, kabinet China mengatakan akan bekerja untuk menstabilkan kenaikan harga komoditas, sambil mendorong produsen batubara untuk meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan global. (Sumber: VOA Indonesia/Reuters)

Tambang Batu Bara Meledak, 8 Pekerja China Hilang

Suara.com 

Tambang batu bara di Provinsi Shaanxi, China, Rabu (4/11/2020) siang waktu setempat, meledak sehingga menyebabkan delapan pekerja tidak diketahui nasibnya.

Pada saat peristiwa tersebut terjadi di areal pertambangan batu bara di Distrik Yintai, Kota Tongchuan, pada pukul 13.00 waktu setempat (Rabu pukul 12.00 WIB) terdapat 42 pekerja yang sedang melakukan aktivitas di bawah tanah.

Tim SAR setempat berhasil mengevakuasi 34 pekerja lainnya dalam keadaan selamat.

Sampai saat ini pencarian korban dan pemindahan puing-puing akibat ledakan masih terus dilakukan, demikian media China.

Menurut catatan, kecelakaan tambang di provinsi barat laut China itu yang kedua kalinya dalam 13 bulan terakhir.

Pada 27 Oktober 2019 sebanyak lima orang tewas dan tiga lainnya hilang setelah satu unit kendaraan penguji meledak di lokasi tambang minyak di Provinsi Shaanxi, tepatnya di Distrik Qilicun, Kota Yan’an, yang kaya kandungan minyak dan gas. (Sumber: Antara)

 

Kadar Karbon Monoksida Tinggi, 16 Penambang Batu Bara di China Tewas

Suara.com

Belasan orang terjebak di sebuah tambang batu bara di barat daya China, di mana 16 di antaranya dilaporkan tewas karena kadar karbon monoksida terlampau tinggi.

Menyadur Al Jazeera, Senin (28/9/2020), otoritas berwenang menyebut 17 orang terjebak di tambang yang terletak persis di luar kota Chongqing.

Tambang tersebut bernama Tambang Batubara Songzao yang dimiliki oleh perusahaan energi negara, Chongqing Energy.

Pemerintah kota Chongqing pada Minggu (27/9) melalui media sosial mengabarkan satu orang pekerja telah dibawa ke rumah sakit, sementara 16 lainnya tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Kantor berita negara Xinhua mengatakan kadar karbon monoksida meningkat ke level tinggi usai mesin conveyor dilalap api. Hingga kini, investigasi tengah dilakukan.

Kecelakaan pertambangan disebutkan sering terjadi di China, di mana industri ini memiliki catatan keselamatan yang buruk dan peraturan yang seringkali diabaikan.

Desember lalu, sedikitnya 14 pekerja tewas dalam ledakan batu bara dan gas di sebuah tambang yang terletak di provinsi Guzhoi barat daya.

Kemudian pada Desember 2018, tujuh penambang tewas di Chongqing setelah penghubung rusak dan jatuh ke poros.

Tiga Pekerja Tambang Batu Bara Tewas Tertimbun di Kedalaman 150 Meter

Suara.com 

Tiga pekerja tambang batu bara di Kota Sawahlunto tewas setelah tertimbun reruntuhan di kedalaman 150 meter dari permukaan tanah.

Selain tiga pekerja tewas, satu orang lainnya mengalami luka berat.

Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Sawahlunto AKBP Junaidi Nur mengatakan, peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (12/9/2020) pukul 05.00 WIB dini hari.

“Benar, ada kecelakaan tambang sekitar pukul 05.00 WIB tadi. (Kejadiannya) di area tambang CV Tahiti Coal,” kata Junaidi melalui sambungan telepon kepada Padangkita.com-jaringan Suara.com pada Minggu (13/9/2020).

Semua korban, saat ini telah ditemukan dan dievakuasi dari dalam lubang tambang. Sedangkan, proses evakuasi berlangsung hingga Minggu (13/9/2020) pagi.

Selain itu, polisi masih berkoordinasi dengan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral untuk menyimpulkan penyebab terjadinya peristiwa itu.

Untuk sementara waktu, polisi menduga insiden itu terjadi akibat lubang tambang runtuh sehingga menimbun pekerja yang berada di dalam lubang.

“Pekerja ini kan ada dua sif, sif siang dan malam. Jadi yang mengalami kecelakaan ini sif malam. Ada empat orang yang menjadi korban. Satu mengalami patah tulang dan tiga orang meninggal dunia,” jelas Kapolres.

Sementara di lokasi, telah dipasang garis polisi dan aktivitas tambang telah dihentikan.

Kepala Teknik Tambang CV Tahiti Coal Julalfrion menyebutkan, peristiwa itu terjadi pada kedalamam 150 meter dari permukaan tanah.

 

Tambang Batu Bara Meledak, 14 Pekerja Tewas Tertimbun

Suara.com 

Sedikitnya 14 pekerja tambang tewas dan dua lainnya terperangkap di bawah tanah saat tambang batu bara di Provinsi Guizhou, China, meledak pada Selasa (17/12/2019) dini hari.

Pemerintah daerah setempat sebagaimana dikutip media resmi China menyebutkan bahwa ledakan di Tambang Batu Bara Guanglong di Kabupaten Anlong, Provinsi Guizhou, terjadi pada pukul 01.30 waktu setempat (00.30 WIB).

Pada saat peristiwa terjadi di pertambangan batu bara wilayah barat daya daratan China itu, sebanyak 23 pekerja tambang sedang melakukan aktivitas rutin di bawah tanah.

Tujuh pekerja berhasil ditarik dari lokasi kejadian dalam keadaan selamat, namun 14 lainnya tewas dan dua orang lagi masih terjebak di dalam tanah.

Petugas kegawatdaruratan sampai saat ini masih berupaya menyelamatkan dua korban yang terjebak itu.

Sementara penyelidikan atas ledakan tersebut terus dilakukan guna mencari faktor penyebabnya. (Antara)

 

Kecelakaan Tambang di Kalsel, Ditjen Minerba : Bukan Karena Banjir

Ruangenergi.com 

Direktur Teknik dan Lingkungan Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Dir TekLing Ditjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Lana Saria, menyebutkan bahwa kejadian kecelakaan penambang tertimbun di salah satu Wilayah Kerja Pertambangan di Mentaweh Kalimantan Selatan (Kalsel), bukan diakibatkan oleh banjir bandang yang menerjang beberapa waktu lalu.

Pasalnya, menurut Lana, wilayah kerja pertambangan tersebut tidak terdampak banjir yang menerjang wilayah Kalsel.

“Kecelakaan yang terjadi di tambang bukan disebabkan karena banjir bandang. Karena di area tersebut tidak terdampak banjir,” kata Lana saat dihubungi Ruangenergi.com, (28/01).

Ia menambahkan, saat ini Pemerintah tengah melakukan proses investigasi terkait adanya laporan kecelakaan kerja di wilayah pertambangan.

“Penyebab kecelakaan sampai saat ini masih dalam proses investigasi,” imbuhnya.

Untuk itu, pengawasan terhadap aspek keselamatan pertambangan selalu dilakukan oleh Ditjen Minerba secara periodik.

“Dalam hal terjadi kecelakaan, tentunya akan ada tindak lanjut hasil investigasi yang harus dilakukan oleh pemegang IUP (Izin Usaha Pertambangan) dan akan dievaluasi pemenuhan pelaksanaannya sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan,” tutup Lana.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah mendapati laporan adanya kecelakaan kerja yang terjadi di area tambang batubara, yang berlokasi di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

Kejadian tersebut diduga tanggul kolam sekitar tambang jebol, sehingga dikabarkan sekitar 22 orang pekerja tambang terjebak lumpur di lubang galian tambang.

Sebanyak 12 dari 22 pekerja yang terjebak dalam jebolnya tanggul kolam sekitar tambang berhasil diselamatkan oleh Tim SAR (Search and Rescue) Gabungan. Sementara, sekitar 10 pekerja tambang masih tertimbun dalam kecelakaan kerja pertambangan tersebut.

Peristiwa kecelakaan kerja di pertambangan itu terjadi pada 24/01/ 2021, sekira pukul 14.30 WITA, di KM 33 Desa Mantawakan Mulya, Kecamatan Mantewe, Tanah Bumbu, Kalsel.

 

Peran Broker Asuransi untuk Industri Pertambangan

Seperti yang sudah kami tulisakan di bagian awal, bahwa industri asuransi tidak begitu menyukai resiko tambang karena resikonya yang besar.

Oleh karena itu perlu bantuan dari ahli dan konsultan asuransi untuk dapat membantu meyakinkan bahwa tambang Anda layak mendapatkan perlindungan asuransi. 

Broker asuransi adalah ahli asuransi dan sekaligus menjadi konsultan Anda. Broker asuransi akan membantu dengan bekerjasama dengan perbaikan resiko (risks improvement) dengan bekerjasama dengan HSE dengan membuat risk management plan and control sehingga resiko lebih bisa dikendalikan.

Dengan adanya informasi manajemen resiko yang memadai broker asuransi akan lebih mudah untuk merancang program asuransi yang tepat dengan biaya yang efisien dan mendapatkan dukungan dari perusahaan asuransi yang terbaik.

Salah satu perusahaan broker asuransi Indonesia yang berpengalaman di bidang risiko tambang adalah L&G Insurance Broker. Mereka mempunyai ratusan klien dan sudah berhasil menyelesaikan klaim ratusan miliar rupiah.

Untuk asuransi tambang Anda hubungi L&G sekarang juga!

Mencari Produk Asuransi? Hubungi Kami Sekarang Juga

HOTLINE L&G 24JAM: 0811-8507-773 (Call – Whatsapp – SMS)

website: lngrisk.co.id

E-mail: customer.support@lngrisk.co.id

Kenapa Broker Asuransi sering juga disebut sebagai Advocate asuransi?

About Mhd. Taufik Arifin ANZIIF (Snr. Assoc) CIIB

Taufik Arifin memiliki lebih dari 30 tahun pengalaman di industri pialang asuransi. Dia memegang sertifikat Lembaga Asuransi dan Keuangan Selandia Baru Australia (ANZIIF snr.assoc) CIP dan Broker Asuransi Indonesia Bersertifikat (CIIB).


Silahkan follow Instagram penulis untuk kenal lebih dekat : @taufik.arifin.31

Klik Untuk Menuliskan Komentar Anda

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top