Asuransi Pertambangan

Harga Meroket, Bagaimana Prospek Batubara di Tahun Mendatang?

Liga Asuransi – Batubara merupakan salah satu tambang yang berpotensi untuk dimanfaatkan lebih lanjut oleh pemerintah selain minyak dan gas bumi. Berdasarkan perhitungan cadangan batubara Indonesia diperkirakan sebesar 42,6 miliar ton dan masih berpotensi untuk diproduksi 80 tahun mendatang. 

Produksi batubara di Indonesia mulai meningkat sejak tahun 1993 dan diperkirakan akan semakin meningkat seiring dengan semakin berkurangnya produksi minyak bumi di Indonesia. Batubara pada saat ini lebih banyak digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik walaupun sebenarnya batubara bermanfaat juga bagi sektor rumah tangga, industri, dan transportasi. Untuk sektor rumah tangga manfaat batubara sebagai bahan bakar dibentuk briket batubara. Dalam dunia industri dan transportasi batubara diubah dalam bentuk cair atau berupa batubara yang bermanfaat sebagai pengganti bahan bakar minyak.

Merujuk pada deal ekspor 200 juta ton batubara Indonesia ke Tiongkok beberapa waktu lalu, kami tertarik untuk membagikan berita seputar tren batubara yang berpotensi memulihkan kembali ekonomi Tanah Air di tahun depan. 

Dilansir dari CNBC Indonesia, Kamis 6 Desember 2020 lalu, Harga batu bara meroket di pekan ini, hingga menyentuh level tertinggi dalam 11 bulan terakhir. Vaksin virus corona (Covid-19) menjadi kunci melesatnya harga batu bara di pekan ini. Sepanjang pekan ini, harga batubara acuan ICE Newcastle melesat 7,55%, ke US$ 75,8 ton, berdasarkan data Refinitiv. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 13 Januari lalu.

Hal tersebut memicu ekspektasi hidup akan berangsur-angsur normal kembali, roda bisnis kembali berputar, perekonomian kembali bangkit dan permintaan batubara diperkirakan akan meningkat.

Kenaikan demand juga sudah terlihat di bulan November lalu dari China dan India, dua negara importir terbesar.

Berdasarkan data Reuters, impor batu bara China pada November 2020 hingga pekan keempat adalah 17,72 juta ton. Melonjak nyaris 60% dibandingkan bulan sebelumnya.

Sementara impor batubara India dalam periode yang sama adalah 19,38 juta ton. Naik 6,78% dibandingkan bulan sebelumnya. Impor batu bara Negeri Bollywood terus menanjak selepas semester I-2020 seiring pelonggaran karantina wilayah (lockdown).

Di tengah meningkatnya impor dari China, terselip kabar kurang sedap. Hubungan China dan Australia memburuk dipicu oleh dukungan Australia untuk menginvestigasi asal muasal wabah Covid-19. Alhasil China dikabarkan memboikot produk batu bara Australia sehingga pengiriman dari Negeri Kanguru ke Negeri Panda menjadi lebih rendah. China berdalih bahwa rendahnya impor dari Australia merupakan keputusan pribadi para konsumennya.

Dalam kasus ini, China mengatakan impor batu bara dari Australia gagal memenuhi standard lingkungan yang ditetapkan menurut Kementerian Luar Negeri China sehingga puluhan pengiriman tertahan di pelabuhan.

“Dalam beberapa tahun terakhir, kebiasaan orang China melakukan penilaian pemantauan risiko terhadap keamanan dan kualitas batu bara impor, dan kami menemukan banyak batu bara impor gagal memenuhi standar lingkungan,” kata juru bicara kementerian Zhao Lijian.

Jika ekspor batu bara Australia ke China sedang bermasalah, Indonesia justru kedatangan berkah. China akan membeli batubara termal senilai US$ 1,467 miliar dari Indonesia tahun depan kata Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI).

Kesepakatan perdagangan tersebut ditandatangani antara APBI dan China Coal Transportation and Distribution pada hari Rabu (25/11/2020).

Penandatangan kesepakatan tersebut serta permintaan global yang sedang menanjak membuat harga batubara acuan (HBA) di bulan Desember naik.

Jepang, Korea Selatan dan India sedang gencar-gencarnya melakukan impor batubara dari Indonesia guna memenuhi kebutuhan industri domestik mereka. Ini menandakan pulihnya industri di negara-negara tersebut,” kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM, Agung Pribadi, seperti dikutip dari keterangan resmi kementerian, Rabu (02/12/2020).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menetapkan HBA pada Desember 2020 naik 7,07% menjadi US$ 59,65/ton dari US$ 55,71/ton pada November 2020.

Setelah merosot terus merosot sejak April, HBA akhirnya terus menanjak 2 bulan terakhir. Tercatat pada Oktober 2020 harga batu bara di angka US$ 51 per ton, naik dari bulan sebelumnya, September yang hanya menyentuh angka US$ 49,42 per ton.

“Secara menyeluruh, rata-rata HBA pada 2020 yaitu US$ 58,17 per ton,” ujarnya.

Dengan melihat data ini, dapat disimpulkan bahwa di tahun depan bisnis yang menyangkut tambang batubara menjadi prospek yang menjanjikan. Namun, dalam pengelolaannya peru adanya perlindungan yang dapat menjamin agar proses dapat berjalan dengan baik karena risiko dapat terjadi kapan dan dimana saja. 

Salah satu cara yang terbaik untuk mendapatkan jaminan asuransi pertambangan batubara adalah dengan memanfaatkan jasa perusahaan broker asuransi yang berpengalaman.

Broker asuransi yang akan membantu mengumpulkan data, mengolah dan membuat analisa dan statistik sehingga bisa dibuat program asuransi yang dapat memberikan manfaat maksimal kepada pemilik dan operator serta mendatangkan keuntungan bagi perusahaan asuransi.

Untuk mendapatkan gambaran lebih lanjut segera hubungi broker asuransi terkemuka di Indonesia.

Jika anda tertarik dengan tulisan ini silahkan dibagikan kepada rekan-rekan Anda agar mereka juga mendapatkan informasi seperti Anda.

Baca Juga :   9 Resiko Tambang Yang Mematikan
Klik Untuk Menuliskan Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top